Kenapa Marinir Masukkan Materi Pertanian-Ekonomi di Latihan Komcad Manajer Merah Putih?

Jakarta, IDM – Korps Marinir menyisipkan kurikulum yang tidak biasa dalam mendidik komponen cadangan (komcad) angkatan terbaru. Marinir menyuntikkan materi pengelolaan koperasi, pertanian, hingga perikanan ke dalam menu latihan para calon komcad manajer merah putih.
Kurikulum baru ini sengaja mengawinkan doktrin militer dengan urusan ekonomi sipil. Guna menyusun modul lapangan tersebut, Korps Marinir menggandeng langsung Kementerian Koperasi (Kemenkop) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Korps Marinir Kolonel (Mar) Rana Karyana menegaskan, kurikulum baru ini sengaja menyasar penguatan sektor manajerial yang spesifik. Korps Marinir ingin para lulusan memiliki bekal ekonomi yang kuat saat kembali ke masyarakat.
"Perbedaan hanya berada di tahap manajerial dan lama pelatihan saja, saat ini manajerial terfokus ke Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih," ujar Rana dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (19/6).
Baca Juga: Marinir Pangkas Latihan Komcad Manajer Koperasi dan Kampung Nelayan Merah Putih jadi 1,5 Bulan
Paduan Disiplin Militer dan Ilmu Lapangan
Modul gabungan ini sekaligus mengubah pakem durasi pendidikan komcad. Pasmar 1 Marinir memotong waktu pelatihan menjadi hanya 1,5 bulan, berbeda dari gelombang terdahulu yang menghabiskan waktu penuh selama tiga bulan.
Rana merinci komposisi waktu siswa selama berada di pusat latihan. Para peserta wajib melahap latihan dasar kemiliteran (latsarmil) untuk menggembleng fisik dan mental selama satu bulan penuh. Selanjutnya, siswa langsung menempuh pelajaran manajerial khusus selama dua minggu sisa.
Lewat ramuan kurikulum padat tersebut, Korps Marinir membidik pembentukan karakter pemimpin yang tanggap. Penggodokan ilmu militer dan ekonomi ini bertujuan melahirkan pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) serta Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang cekatan.
"Sehingga memiliki kemampuan dasar militer, integritas, kerja sama, manajerial yang berorientasi kepada hasil dan mampu mengambil keputusan secara cepat/tepat dalam pengelolaan Koperasi Desa/Kelurahan dan Kampung Nelayan Merah Putih serta mampu berperan sebagai perekat bangsa," jelas Rana.
Baca Juga: Tiga Perwira TNI AD Lulus dari Kampus Militer Elite AS, Ada Anak Aktor Kawakan
Bagian Rencana Besar Pertahanan Sipil Kemhan
Agenda kilat di internal Marinir tersebut berjalan searah dengan proyeksi besar Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI. Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kemhan RI Brigjen Rico Ricardo Sirait menyatakan, pemerintah memang tengah menggalang puluhan ribu pengelola koperasi dan nelayan untuk masuk ke dalam sistem pertahanan negara.
Kemhan menjaring total 35.476 orang peserta secara nasional untuk mengikuti program bela negara ini. Angka tersebut mencakup 30.000 calon pengelola KDKMP dan 5.476 calon pengelola KNMP. Pemerintah menyebar puluhan ribu peserta ini ke 67 satuan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.
"Dalam perencanaannya, peserta akan mengikuti pelatihan kedisiplinan dalam bentuk latsarmil komcad yang dipadukan dengan pelatihan manajerial dan kompetensi bidang sesuai kebutuhan pengelolaan koperasi dan kampung nelayan," kata Rico.
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































