HANKAM

Kedubes Korsel dan ISDS Gelar Lomba Menulis Nasional, Ajak Mahasiswa Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Korea

Prabowo Subianto dan Lee Jae Myung
Presiden RI Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Istana Kepresidenan Cheong Wa Dae (Blue House), Seoul, April lalu. (Foto: Dok. BPMI)

Jakarta, IDM – Kedutaan Besar Republik Korea (Korea Selatan) di Indonesia bekerja sama dengan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Friends of Korea, serta didukung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, menggelar lomba menulis nasional bagi mahasiswa Indonesia dan Korea Selatan.

Penyelenggaraan lomba tersebut merupakan bagian dari upaya memperingati peningkatan status hubungan Indonesia dan Korea Selatan dari Kemitraan Strategis Khusus (Special Strategic Partnership) menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus (Special Comprehensive Strategic Partnership/SCSP). Peningkatan status hubungan bilateral ini dicapai melalui kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada April 2026.

Mengusung tema “Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus Indonesia–Korea: Memperluas Kolaborasi, Membangun Masa Depan Bersama,” kompetisi tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya ide-ide segar dan inovatif dari kalangan mahasiswa terkait penguatan kerja sama kedua negara di berbagai sektor sekaligus menjadi wadah untuk memberikan gagasan dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara.

Kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang dialog intelektual bagi generasi muda untuk mengkaji berbagai peluang dan tantangan dalam hubungan Indonesia-Korea Selatan yang semakin strategis, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, pertahanan, budaya, hingga hubungan antarmasyarakat.

Baca Juga: KRI Brawijaya Uji Tembak Meriam Utama 127 mm di Laut Jawa

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Didi Sukyadi, yang turut menjadi salah satu dewan juri dalam kompetisi tersebut, menyambut positif penyelenggaraan lomba karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam memikirkan masa depan hubungan bilateral kedua negara.

Menurutnya, mahasiswa perlu memperoleh ruang untuk memahami berbagai isu strategis dalam hubungan Indonesia dan Korea Selatan, menganalisis peluang maupun tantangan yang ada, serta menyampaikan gagasan yang didasarkan pada pengetahuan dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

“Mahasiswa perlu memperoleh kesempatan untuk memahami isu bilateral, menilai peluang dan tantangannya, kemudian menyampaikan gagasan berdasarkan pengetahuan dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Didi.

Ia menekankan pentingnya menghadirkan tulisan yang orisinal, berbasis data, serta memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan masyarakat. Menurutnya, karya tulis yang berkualitas tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan secara jelas, tetapi juga menjelaskan relevansi persoalan tersebut bagi kedua negara sekaligus menawarkan solusi yang realistis dan aplikatif.

Lebih jauh, Didi menilai kompetisi ini memiliki nilai edukatif yang signifikan karena mampu melatih kemampuan literasi, berpikir kritis, serta meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap persoalan global dan hubungan internasional.

“Ketertarikan generasi muda Indonesia terhadap Korea Selatan saat ini sangat tinggi. Melalui kegiatan seperti ini, ketertarikan tersebut dapat berkembang menjadi pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendidikan, ekonomi, teknologi, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Korea secara lebih luas,” katanya.

Didi juga menyoroti keterlibatan komunitas Friends of Korea dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, organisasi dan komunitas masyarakat memiliki peran penting dalam mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Baca Juga: Wapang Maruli Fokus Selesaikan Air Bersih, Sampah hingga Ambulans di Perbatasan

Ia menilai hubungan bilateral tidak hanya dibangun melalui kerja sama pemerintah dan sektor bisnis, tetapi juga melalui interaksi langsung masyarakat yang berlangsung dalam bentuk dialog, pertukaran budaya, hingga pengalaman bekerja sama lintas negara.

“Saya melihat keterlibatan Friends of Korea sebagai peluang untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam hubungan Indonesia-Korea Selatan. Hubungan antarmasyarakat tumbuh melalui perjumpaan, dialog, dan pengalaman bekerja bersama. Komunitas dapat membantu menghadirkan ruang tersebut secara lebih dekat dengan kehidupan generasi muda,” tuturnya.

Melalui kompetisi menulis ini, lanjut Didi, minat besar masyarakat Indonesia terhadap Korea Selatan dapat diarahkan menjadi pertukaran gagasan yang lebih substantif dan bermakna. Pada saat yang sama, masyarakat Korea juga perlu memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengenal Indonesia, termasuk keragaman budaya, bahasa, dan cara pandang masyarakat Indonesia.

Menurutnya, pemahaman yang tumbuh secara timbal balik akan menjadi fondasi penting bagi terciptanya hubungan yang lebih kuat dan saling menghormati di masa mendatang.

Sementara itu, CEO dan Co-founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Edna Caroline, berharap kompetisi tersebut memperoleh sambutan luas dari mahasiswa Indonesia, baik yang sedang menempuh pendidikan di dalam negeri maupun di Korea Selatan.

Ia mengajak generasi muda untuk berpartisipasi aktif dengan menyampaikan gagasan yang kreatif, kritis, dan konstruktif mengenai berbagai peluang penguatan kerja sama Indonesia-Korea Selatan di masa depan.

Menurut Edna, kompetisi ini diharapkan tidak hanya mendorong mahasiswa memahami kerja sama yang selama ini telah terjalin, tetapi juga merumuskan perspektif baru untuk memperluas cakupan kolaborasi kedua negara.

Baca Juga: TNI AD dan Angkatan Darat India Gelar Latma Garuda Shakti selama Sebelas Hari

“Melalui kompetisi ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya melihat hubungan Indonesia-Korea dari perspektif kerja sama yang telah terjalin, tetapi juga mampu menawarkan ide-ide baru untuk memperluas kolaborasi di masa depan. Kami mengundang mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk berpartisipasi dan menyampaikan pemikiran terbaik mereka,” ujar Edna.

Pendaftaran lomba dibuka mulai 13 Oktober hingga 27 November 2026. Kedutaan Besar Republik Korea berharap berbagai gagasan yang lahir dari kompetisi ini dapat berkembang menjadi diskusi yang lebih luas dan mendalam mengenai arah masa depan hubungan Indonesia dan Korea Selatan.

Kompetisi ini terbuka bagi mahasiswa program sarjana maupun pascasarjana yang sedang menempuh pendidikan di Indonesia maupun Korea Selatan. Panitia juga menyediakan hadiah dengan total nilai puluhan juta rupiah bagi 20 pemenang terbaik.

Informasi lengkap mengenai persyaratan, panduan penulisan, dan tata cara pendaftaran dapat diakses melalui akun Instagram resmi Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia @koremb.idn, akun Instagram ISDS @isds.indonesia, akun Instagram KBRI Seoul @indonesiainseoul, maupun situs resmi ISDS.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.