HANKAM

Kecolongan Drone Bawah Laut, Kenapa Malah Nelayan yang Sering Temukan?

UUV
Warga dan personel TNI AL mengevakuasi benda asing diduga UUV atau drone bawah air buatan Cina di Perairan Gili Trawangan, NTB, Senin (6/4) lalu. (Foto: Dok. X/LembagaKERIS)

Jakarta, IDM – Berulangnya penemuan drone bawah laut milik asing membuka celah keamanan di wilayah perairan Indonesia. Instrumen intelijen laut tersebut justru berulang kali ditemukan oleh nelayan lokal, bukan melalui sistem pengawasan militer.

Kasus terbaru terjadi pada April 2026. Seorang nelayan bernama Ariyanto (28) menemukan drone bawah laut yang mengapung di utara Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB. Perangkat jenis Autonomous Underwater Vehicle (AUV) pemeta arus laut yang diduga buatan industri militer Cina itu kemudian dievakuasi ke Pangkalan TNI AL (Lanal) Mataram untuk diidentifikasi.

Insiden di jalur vital Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II ini memperpanjang deretan kasus serupa. Sebelum peristiwa di Selat Lombok, nelayan lokal sudah berulang kali mendapati seaglider dan drone asing di perairan Kepulauan Selayar, Masalembo, hingga Kepulauan Riau.

Baca Juga: Suasana Haru Pemakaman Pratu Galuh Nugraha, Gugur Saat Basmi Narkoba

Kepala Pusat Olah Yudha di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Kolonel Laut (P) Bagus Jatmiko, menilai rentetan kejadian ini menjadi alarm bahaya bagi kedaulatan maritim nasional.

"Penemuan wahana intai bawah laut oleh nelayan lokal memperlihatkan betapa lemahnya kemampuan pemantauan dasar laut kita," ujar Bagus dalam diskusi maritim Semar Sentinel, Jakarta, Selasa (28/7).

Bagus memaparkan drone asing tersebut mengemban misi khusus mengumpulkan data hidro-oseanografi. Pihak asing sengaja merekam kontur, suhu, hingga kadar garam perairan dalam untuk merancang rute pelayaran senyap kapal selam perang mereka.

Masalahnya, kemampuan deteksi dini Indonesia masih kedodoran akibat minimnya infrastruktur pemantauan bawah air atau underwater domain awareness. Indonesia belum memiliki jaringan sensor dasar laut terintegrasi yang mampu melacak pergerakan objek asing secara seketika (real-time).

Baca Juga: Tanpa Jalur Cadangan, Sabotase Kabel Bawah Laut Bisa Tumbangkan Internet RI

Bagus menegaskan nota protes diplomatik atas pelanggaran wilayah tidak akan bertaji tanpa penguatan pertahanan fisik. Indonesia wajib membangun daya tangkal (deterrence) di laut agar negara lain tidak semena-mena.

Pengadaan jaringan sensor bawah air ini sekaligus menjadi syarat mutlak bagi operasional kapal selam ocean-going. Tanpa sokongan data penginderaan yang akurat, armada kapal selam TNI AL bakal kesulitan memburu penyusup sejak awal.

Bagus mendesak pemerintah segera menggelar jaringan sensor bawah air secara masif di titik-titik krusial seperti ALKI. Rangkaian sensor tersebut harus terhubung langsung ke pusat data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) agar kedaulatan laut RI tidak terus-menerus kecolongan.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.