HANKAM

Kapuskersin TNI: Diplomasi Militer adalah Penjaga Kehormatan Bangsa

Kapuskersin TNI, Laksamana Pertama TNI Donny Suharto
Kepala Pusat Kerja Sama Internasional (Kapuskersin) TNI, Laksamana Pertama TNI Donny Suharto saat Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kerja Sama Internasional di Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (6/8). (Foto: Dok. Puskersin)

Jakarta, IDM – Di tengah rivalitas kekuatan besar dan ancaman non-tradisional, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menegaskan pentingnya diplomasi militer sebagai instrumen strategis dalam menjaga kehormatan bangsa dan memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Kerja Sama Internasional (Kapuskersin) TNI, Laksamana Pertama TNI Donny Suharto, dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kerja Sama Internasional yang digelar di Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (6/8).

“Kita hadir bukan untuk menakuti, tetapi meneguhkan perdamaian. Kita berdiri bukan untuk mengancam, tetapi menjaga kehormatan bangsa,” ujar Donny.

Baca Juga: TNI AL Punya Kolam Simulasi Arus Laut untuk Penelitian hingga Uji Teknologi

Rakornis tahun ini mengusung tema “Menentukan Langkah Strategis Diplomasi Jangka Menengah bagi TNI di Tengah Dinamika Geopolitik dan Geostrategi Saat Ini”, menghadirkan dua narasumber utama, Vahd Nabyl A. Mulachela (Kemenlu RI) yang menekankan pentingnya integrasi antara kekuatan militer dan diplomasi dalam menghadapi tantangan kawasan yang semakin kompleks.

“Kekuatan TNI dan kepiawaian diplomasi Kementerian Luar Negeri harus menjadi satu tarikan napas,” tegas Nabyl.

Sementara Teuku Rezasyah (Universitas Padjadjaran) fokus kepada mendorong peran aktif Indonesia sebagai qualified middle power, dengan TNI sebagai garda depan diplomasi pertahanan berbasis prinsip bebas aktif dan Pancasila.

“Diplomasi militer adalah elemen krusial dalam menjaga keseimbangan dan meminimalkan konflik,” ujarnya.

Baca Juga: TNI AD Kirim 10.817 Personel dan 105 Alutsista ke Batujajar, Ini Rinciannya

Diskusi Rakornis menyoroti bahwa diplomasi militer masa kini mencakup kerja sama intelijen dan interoperabilitas, promosi industri pertahanan nasional, bantuan kemanusiaan lintas negara, adaptasi terhadap ancaman teknologi tinggi.

Diplomasi militer dinilai sebagai alat penting dalam membangun mutual trust sekaligus mempertahankan otonomi nasional di tengah tekanan global.

Sejak menjabat pada September 2024, Laksma Donny Suharto telah menginisiasi berbagai langkah strategis, termasuk pelaksanaan Military Attaché Gathering 2024, penguatan komunikasi dengan mitra internasional, promosi keterlibatan TNI dalam forum global.

Baca Juga: Setelah 25 Tahun Kosong, Wakil Panglima TNI Akan Dilantik Lagi dalam Upacara Kehormatan Militer

Latar belakangnya sebagai lulusan terbaik Warfare and Strategy Course (WSC) 2022 dan alumni AAL 1996 memperkuat posisinya sebagai perwira diplomatik dengan wawasan strategis.

“Indonesia membutuhkan insan-insan tangguh, berwawasan global namun berjiwa Merah Putih. Kalian adalah pahlawan zaman ini,” tutup Donny dalam amanatnya.

Rakornis Kersin TNI 2025 ditutup dengan komitmen kolektif untuk membawa semangat Garuda dalam setiap forum internasional, menjaga perdamaian, memperkuat diplomasi, dan memastikan kedaulatan Indonesia tetap terjaga. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.