Jalan Kaki 300 Km, 947 Prajurit Remaja Resmi Sandang Baret Marinir!

Jakarta, IDM – Perjuangan berat ratusan prajurit remaja Korps Marinir akhirnya berbuah manis. Sebanyak 947 prajurit resmi menyandang baret ungu legendaris setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan komando yang ekstrem.
Prosesi pembaretan yang sakral ini berlangsung di Pantai Baruna, Malang Selatan, Jawa Timur, Senin (22/6). Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letjen (Mar) Endi Supardi memimpin langsung upacara penyematan tersebut.
Para kesatria amfibi baru ini terdiri dari barisan bintara dan tamtama remaja. Bagi Korps Marinir, pembaretan ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol lahirnya prajurit yang memanggul identitas, kehormatan, dan kebanggaan sebagai pasukan pendarat amfibi.
Baca Juga: TNI AL Cari Taruna hingga Tamtama dari Papua Selatan
Sebelum resmi memakai baret ungu, para prajurit remaja ini harus melewati gemblengan fisik dan mental yang menguras energi selama kurang lebih dua bulan. Mereka wajib melahap lima tahap pendidikan komando yang sangat kompetitif.
Tahapan tersebut meliputi dasar komando, kelautan, hutan gunung, perang gerilya, hingga lawan gerilya. Seluruh kurikulum ketat ini dirancang khusus untuk membentuk ketangguhan fisik, karakter, dan jiwa kepemimpinan khas prajurit komando Marinir.
Puncak ujiannya, ratusan prajurit ini harus menjalani tahap lintas medan (cross-country stage). Mereka berjalan kaki sejauh 300 hingga 350 kilometer dari Banyuwangi menuju Pantai Baruna, Malang Selatan.
Selama belasan hari, para prajurit menembus medan berat dan cuaca ekstrem sambil membawa perlengkapan tempur lengkap di pundak mereka. Ujian terakhir ini bertujuan menguji batas kemampuan sebelum mereka sah menjadi bagian dari Korps Marinir.
Baca Juga: Ini Empat Pilar Utama Seleksi Taipur, Prajurit Elite TNI AD
Endi memberikan ucapan selamat kepada seluruh mantan siswa pendidikan komando angkatan 178 dan 179 yang kini resmi menjadi keluarga besar Korps Marinir. Dia pun membeberkan tujuan utama dari latihan maut tersebut.

"Kalian telah melewati rangkaian latihan praktik komando khas Marinir yang berat dan menantang selama kurang lebih dua bulan," ujar Endi, dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Selasa (23/6).
Endi melanjutkan, seluruh proses tersebut bertujuan untuk membentuk kesiapan fisik, mental, karakter, serta jiwa kepemimpinan. "Sehingga mampu menjadi prajurit yang tangguh, disiplin, berani, dan profesional dalam menghadapi tuntutan tugas yang semakin kompleks di masa mendatang," lanjutnya.
Endi menjelaskan, para prajurit remaja tersebut merupakan pasukan pendarat amfibi yang memiliki spesialisasi dan kualifikasi prajurit komando. Mereka sengaja ditempa agar mampu menghadapi berbagai tantangan penugasan, bahkan di medan yang paling berat sekalipun.
Menurutnya, kehormatan menyandang baret ungu harus menjadi motor penggerak untuk terus berlatih. Dia meminta para prajurit mengabdikan diri secara tulus demi kejayaan Korps Marinir, TNI AL, bangsa, dan negara.
"Kalian senantiasa menjadi prajurit yang tangguh, profesional, militan, dan berkarakter, serta mampu melanjutkan dan menjaga keharuman nama Korps Marinir pada masa mendatang," tutup Endi.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































