Jaga Perbatasan, KRI Parang-647 Geber Latihan Bahaya Permukaan di Bintan

Jakarta, IDM – Kesiapsiagaan menjadi harga mati bagi prajurit penjaga laut Nusantara. Hal ini ditunjukkan oleh unsur Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmada I, KRI Parang-647, yang menggelar latihan intensif di dermaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Bintan, Kepulauan Riau, Rabu (21/1).
Meski kapal dalam posisi sandar, para prajurit tetap "tancap gas" latihan peran bahaya permukaan. Latihan ini sengaja digeber untuk memastikan setiap personel selalu siap menghadapi ancaman musuh yang bisa muncul sewaktu-waktu di perbatasan.
Komandan Satuan Kapal Cepat (Dansatkat) Koarmada I Kolonel Laut (P) Dedi Gunawan Widyatmoko, menjelaskan kegiatan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya menjaga insting tempur prajurit agar tidak tumpul.
Baca Juga: Satgas Pamtas RI-RDTL Gagalkan Upaya Penyelundupan Solar Ilegal
"Kegiatan ini menjadi bagian pembinaan rutin untuk menjaga kesiapsiagaan prajurit menghadapi potensi ancaman, sekaligus menjaga naluri tempur dan kewaspadaan prajurit kapan pun dan di mana pun bertugas," jelas Dedi, dikutip dari keterangan Dispen Koarmada I, Kamis (22/1).
Latihan di Bintan ini memiliki nilai strategis yang tinggi. Pasalnya, perairan Bintan merupakan "teras depan" Indonesia yang berbatasan langsung dengan dua negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia.

Wilayah ini juga menjadi pintu gerbang menuju Selat Singapura, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Karena posisinya yang sangat terbuka dan ramai, kawasan ini rawan terhadap potensi pelanggaran wilayah, penyelundupan, hingga gangguan keamanan laut lainnya. Oleh karena itu, kehadiran KRI Parang-647 dengan kondisi kru yang siaga tempur sangat dibutuhkan untuk menegakkan kedaulatan.
Apa Itu Peran Bahaya Permukaan?
Bagi masyarakat awam, istilah "peran bahaya permukaan" mungkin terdengar asing. Sederhananya, ini adalah simulasi tempur di mana kapal perang menghadapi ancaman serangan yang datang dari atas permukaan laut, seperti kapal musuh atau perahu cepat yang mencurigakan.
Baca Juga: TNI AL Siapkan Beasiswa IPTEK hingga Penyetaraan Pendidikan bagi Prajurit
Dalam latihan ini, suasana kapal yang semula tenang berubah menjadi tegang dan sibuk layaknya kondisi perang sungguhan.
Saat tanda bahaya berbunyi, seluruh unsur jaga di KRI Parang-647 langsung bergerak cepat menuju pos tempurnya masing-masing. Dimulai dari kru radar yang mendeteksi pergerakan mencurigakan, pelaporan situasi secara cepat ke anjungan (ruang kemudi), hingga penyiapan senjata untuk mengantisipasi serangan.
"Seluruh rangkaian dilaksanakan secara serius dan disiplin. Kami memastikan setiap prajurit memahami peran, fungsi, serta tanggung jawabnya dalam menjaga keamanan kapal, personel, dan material," ujar Dedi. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































