Irkorpasgat: Pembangunan Batalion Arhanud 32 Pasgat Perkuat Pertahanan Timur Indonesia

Jakarta, IDM – Inspektur Korps Pasukan Gerak Cepat (Irkopasgat) Marsma TNI Roy Rassy Fay M. Bait menegaskan, pembangunan Batalion Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) 32 Pasgat di Kupang memiliki nilai strategis dalam memperkuat sistem pertahanan udara Indonesia, khususnya di wilayah timur.
Baca Juga: Dankoharmatau Tegaskan Fungsi Logistik sebagai Tulang Punggung Keberhasilan Operasi TNI AU
Sebagai langkah awal, Irkorpasgat memimpin langsung prosesi peletakan batu pertama pembangunan batalion tersebut di Lanud El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (14/11).

“Satuan ini akan menjadi garda terdepan dalam menghadapi berbagai ancaman udara modern, sekaligus memperkuat postur pertahanan TNI AU secara keseluruhan,” ungkap Marsma TNI Roy Rassy dikutip dari unggahan instagram @korpasgat, Minggu (16/11).
Baca Juga: Terobosan Baru, KSAL Resmikan MRI Tanpa Helium di RS Marinir Cilandak
Pembangunan satuan baru ini juga menjadi wujud nyata atas komitmen Korpasgat untuk terus mengembangkan serta memodernisasi kemampuan prajurit serta fasilitas pendukung yang sejalan dengan dinamika ancaman dan perkembangan teknologi pertahanan global. (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































