HANKAM

Insiden Jatuhnya Pesawat di Nunukan, TNI AU-Basarnas Evakuasi Jenazah Pilot ke Tarakan

Personel TNI AU
Personel TNI AU dan Basarnas melakukan proses evakuasi jenazah korban pilot pesawat Pelita Air Service. (Foto: Dok. Dispenau)

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) berhasil mengevakuasi jenazah pilot Pelita Air Service, Kapten Hendrick L. Adam, menuju Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat (20/2).

Jenazah korban dievakuasi oleh tim SAR gabungan dengan menggunakan pesawat MAF registrasi PK-MEE. Kapten Hendrick merupakan korban dalam insiden jatuhnya pesawat Pelita Air Service di wilayah Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (19/2).

“Keberhasilan evakuasi ini merupakan hasil sinergi dan koordinasi yang solid antara TNI AU, Basarnas, serta pihak terkait lainnya, yang didukung oleh respons cepat dan profesionalisme seluruh personel di lapangan,” ungkap Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI I Nyoman Suadnyana dikutip dari siaran pers Dispenau, Jumat (21/2).

Baca Juga: TNI AD Ajak Dua Anggota OPM Ikrar Kembali ke NKRI

Sementara itu, Komandan Lanud Anang Busra Marsma TNI Andreas A. Dhewo menjelaskan bahwa proses evakuasi dimulai sejak Jumat pagi. Kemudian, pesawat MAF PK-MEE bertolak dari Long Bawan menuju Tarakan pada pukul 11.38 WITA dengan membawa jenazah korban, beserta satu prajurit TNI AU, enam personel Basarnas, serta satu personel Pelita Air Service.

Setibanya di Tarakan pada pukul 12.25 WITA, jenazah kemudian diserahkan kepada pihak Pelita Air Service. Jenazah rencananya akan diterbangkan ke Jakarta.

Marsma TNI Andreas A. Dhewo
Komandan Lanud Anang Busra Marsma TNI Andreas A. Dhewo memberikan keterangan pers terkait proses evakuasi jenazah korban pilot pesawat Pelita Air Service. (Foto: Dok. Dispenau)

Sejak informasi kecelakaan diterima, TNI AU melalui Lanud Anang Busra bergerak cepat dan berkoordinasi dengan unsur terkait seperti AirNav, aparat kewilayahan, serta masyarakat setempat untuk melakukan pencarian dan evakuasi.

Lokasi pesawat berhasil ditemukan pada Kamis (19/2) pukul 13.25 WITA. Pilot kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada pukul 14.33 WITA.

Baca Juga: Wakasau Tegaskan Keselamatan Terbang dan Kerja jadi Marwah Profesionalisme Prajurit TNI AU

Pesawat Pelita Air Service dengan nomor registrasi PK-PAA diketahui tengah menjalankan penerbangan rutin untuk mengangkut bahan bakar minyak (BBM) Satu Harga di wilayah Kalimantan Utara. Penerbangan tersebut menempuh rute Tarakan-Long Bawan-Tarakan.

Setelah menyelesaikan misi pengiriman logistik, pesawat kembali terbang dalam kondisi kosong tanpa muatan BBM dan hanya diawaki oleh seorang pilot.

Namun demikian, kantor pusat PT Pelita Air Service di Jakarta memperoleh laporan awal pada pukul 12.30 WITA yang menjelaskan bahwa pesawat PK-PAA diduga jatuh tidak jauh dari Bandara Long Bawan. (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.