Ini Pesan KSAD untuk 11 Pati TNI AD yang Naik Pangkat

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menerima laporan Korps Kenaikan Pangkat 11 Perwira Tinggi (Pati) TNI AD, di Aula GPH. Djatikusumo, Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta, Senin (8/7/2024).
Pada kesempatan tersebut, KSAD meminta dengan kenaikan pangkat ini untuk peningkatan kualitas dan kapabilitas diri, demi kemajuan institusi TNI AD.
Baca Juga: Militer Singapura Sambangi Pussenif, Bahas Latma dan Pencegahan Konflik
"Kenaikan pangkat seyogyanya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai kesempatan dalam rangka peningkatan kualitas dan kapabilitas diri, demi kemajuan institusi TNI AD," kata KSAD.
11 Pati TNI AD yang kenaikan pangkatnya tertuang dalam surat perintah Panglima TNI Nomor Sprin 1150/VI/2024 tertanggal 26 Juni 2024 lalu, bersama dengan Pati lainnya dari TNI AL dan TNI AU.
Baca Juga: Kababinkum TNI Beberkan Solusi Penyelesaian Konflik Laut Cina Selatan
Adapun 11 Pati TNI AD yang melaporkan kenaikan pangkatnya satu tingkat lebih tinggi dari pangkat sebelumnya, terdiri dari 10 Pati berpangkat Mayor Jenderal (bintang dua) dan satu Pati berpangkat Brigadir Jenderal (bintang satu). (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































