Identifikasi UUV Asing di Selat Lombok, TNI AL Fokus Cari Data Navigasi

Jakarta, IDM – TNI AL tengah melakukan identifikasi mendalam terhadap perangkat bawah laut tak berawak atau Unmanned Underwater Vehicle (UUV) yang ditemukan di perairan Selat Lombok. Fokus utama saat ini adalah membongkar "otak" perangkat tersebut untuk melacak jejak navigasi dan data intelijen yang tersimpan di dalamnya.
Temuan ini menjadi sangat strategis karena lokasi penemuannya berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Jalur ini merupakan perlintasan air dalam yang vital bagi pelayaran internasional, termasuk menjadi rute favorit bagi kapal selam bertenaga nuklir milik negara-negara asing.
"TNI AL melalui tim ahli dari satuan terkait secepatnya akan melakukan pemeriksaan mendalam atau identifikasi teknis terhadap perangkat tersebut," ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul kepada Indonesia Defense Magazine, Rabu (8/4).
Buru Data Rekam Jejak
Berdasarkan informasi yang beredar, tim ahli akan membedah memori perangkat guna mengetahui asal-usul dan data-data yang terkandung di dalamnya. TNI AL ingin memastikan rute mana saja yang telah dipetakan oleh robot tersebut selama berada di perairan Indonesia.
Pemeriksaan ini bertujuan menelusuri fungsi utama benda asing tersebut. Hal ini krusial untuk menentukan apakah kehadiran perangkat ini hanya untuk keperluan ilmiah atau justru bagian dari operasi mata-mata bawah laut di wilayah kedaulatan NKRI.
"Tujuannya untuk mengetahui asal-usul, fungsi, maupun data-data yang terkandung di dalamnya," tegas Tunggul.
Baca Juga: Sertijab Komandan KRI dr Soeharso-990, Dansatban Ingatkan Perkembangan Lingstra yang Makin Kompleks
Diduga Robot Pemeta Arus Cina
Laporan lapangan menyebutkan, perangkat tersebut diduga kuat merupakan produk dari China Shipbuilding Industry Corporation (CSIC), perusahaan industri militer milik negara Cina. Dugaan ini diperkuat dengan adanya tulisan Mandarin "研制" (yan zhi) pada badan perangkat yang berarti "penelitian dan pengembangan".
Perangkat ini juga dilengkapi dengan sensor canggih bernama Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP). Sensor ini bekerja mirip dengan sonar, yakni memancarkan gelombang suara untuk mengukur kecepatan arus air dan memetakan profil hidro-oseanografi dasar laut secara mendetail.
Baca Juga: Jalur Strategis Selat Lombok ‘Disusupi’ Perangkat Asing, Ini Kata TNI AL
Kronologi Penemuan
Robot bawah laut ini pertama kali ditemukan oleh seorang nelayan bernama Ariyanto (28) pada Senin (6/4) pagi saat sedang memancing. Benda itu terlihat mengambang sekitar 10 mil dari Gili Trawangan, Lombok Utara.
Nelayan tersebut langsung melapor ke petugas keamanan setempat. Tim penjinak bom (Jibom) dari Polda NTB juga telah memeriksa benda itu dan memastikan tidak ada kandungan bahan peledak maupun paparan radioaktif.
Saat ini, "penyusup" bawah air tersebut sudah diamankan di Markas Komando (Mako) Pangkalan TNI AL (Lanal) Mataram dengan pengawalan ketat Polisi Militer. Investigasi lanjutan akan melibatkan tim dari Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) untuk mengolah data survei yang ditemukan di dalam perangkat tersebut. (at)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































