Bahas Hukum Laut di UHT Surabaya, Pakar hingga Akademisi Diajak Berlayar Bareng KRI Bima Suci

Jakarta, IDM – Sebanyak 60 pakar, akademisi, hingga mahasiswa mengulas isu hukum laut internasional dalam forum ISILL Academy on Law of The Sea di Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya, Jawa Timur, Senin (10/8). Selain membedah teori di kelas, para peserta diajak berlayar langsung dengan kapal layar latih KRI Bima Suci.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari hingga Kamis (13/8) ini menghadirkan deretan pakar hukum laut dari dalam dan luar negeri. Forum ini menjadi ruang diskusi untuk memperkuat pemahaman tata kelola wilayah perairan bagi negara kepulauan.
Ketua Indonesian Society of International Law Lecturers (ISILL) Arie Afriansyah menjelaskan, forum ini mendatangkan para ahli dari berbagai lembaga untuk membahas isu maritim terkini.
Baca Juga: TNI AD Terapkan “Military Craft” di Indonesia Timur
"Kegiatan ISILL Academy on Law of The Sea menghadirkan sejumlah narasumber dan pakar hukum laut internasional, baik dari Indonesia maupun mancanegara," kata Arie, dikutip dari laman TNI AL.
Deretan pakar yang membagikan ilmu dalam forum ini antara lain Profesor Etty R Agoes, Laksamana Muda TNI (Purn) Iwan Isnurwanto, Profesor Stuart Kaye, Profesor Sri Wartini, Profesor Dhiana Puspitawati, hingga R Achmad Gusman Catur Siswandi.
Hadir pula Laksamana Muda TNI (Purn) Agung Pramono, Laksamana Pertama TNI Ali Ridlo, Assoc Profesor Hazmi Mohd Rusli, I Made Arsana, serta Andy Aron.
Sementara itu, Rektor UHT Laksamana Muda TNI (Purn) Avando Bastari menegaskan, pemahaman hukum laut internasional sangat penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.
"Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah perairan yang mencapai sekitar dua pertiga dari total wilayah nasional. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas di bidang hukum laut internasional sangat penting untuk mengamankan batas teritorial," terang Avando.
Ia menambahkan, penguasaan aturan laut global menjadi kunci utama dalam mengamankan kekayaan laut nasional.
"Langkah ini penting untuk melindungi kekayaan sumber daya alam, serta memperkuat posisi diplomasi maritim Indonesia di kancah global," tegasnya.
Baca Juga: Kodim 0808/Blitar Rampungkan 260 Titik Pembangunan KDKMP
Untuk melengkapi materi kelas, panitia menyiapkan agenda berlayar bersama KRI Bima Suci pada hari terakhir. Sesi ini dirancang agar para peserta bisa melihat langsung penerapan hukum laut di lapangan.
Ketua Panitia ISILL Academy on Law of The Sea Kolonel Laut (Purn) Budi Pramono menjelaskan bahwa pelatihan ini menggabungkan teori akademis dengan pengalaman praktik di laut.
"Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pembelajaran secara teoritik, tetapi juga menghadirkan pengalaman praktik bagi para peserta," kata Budi.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































