HANKAM

Gelar Latma Rajawali Ausindo 2024, TNI AU dan RAAF Kerahkan Pesawat C-130J Super Hercules

Pesawat C-130J Super Hercules A-1342 milik TNI AU yang dikerahkan dalam latihan bersama Rajawali Ausindo 2024 dengan RAAF. (Foto: Dok. Instagram @militer.udara)
Pesawat C-130J Super Hercules A-1342 milik TNI AU yang dikerahkan dalam latihan bersama Rajawali Ausindo 2024 dengan RAAF. (Foto: Dok. Instagram @militer.udara)

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan Angkatan Udara Australia (Royal Australian Air Force/RAAF mengerahkan masing-masing satu unit pesawat C-130J Super Hercules untuk mengikuti latihan bersama (latma) Rajawali Ausindo 2024.

Pesawat C-130J Super Hercules TNI AU yang dikerahkan dalam latihan bersama ini berasal dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta dan memiliki nomor registrasi (tail number) A-1342. Di sisi lain, RAAF mengerahkan pesawat dengan nomor ekor A97-450.

Baca Juga: PT Len Industri Perkenalkan Pesawat Nirawak Terbarunya di Bali International Airshow 2024

Melansir keterangan TNI AU dalam unggahan instagram @militer.udara, Kamis (19/9) dijelaskan, kedua pesawat tersebut nantinya akan melakukan penerbangan contour flying pada ketinggian 500 kaki di atas permukaan tanah dengan rute Yogyakarta – Wadaslintang – Sempor – Kroya – Ambal Yogyakarta.

Personel TNI AU dan RAAF yang mengikuti latihan bersama Rajawali Ausindo 2024. (Foto: Dok. Instagram @militer.udara)
Personel TNI AU dan RAAF yang mengikuti latihan bersama Rajawali Ausindo 2024. (Foto: Dok. Instagram @militer.udara)

Latihan bersama Rajawali Ausindo 2024 dibuka secara resmi di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Selasa (18/9) oleh Komandan Wing Udara 1 yang sekaligus bertindak sebagai Exercise Director pada latma kali ini, Kolonel Pnb Beny Aprianto. Sementara itu, pejabat RAAF yang hadir dalam upacara pembukaan tersebut adalah FLTLT Jack Woodrow selaku Detachment Commander RAAF.

Usai upacara pembukaan, personel TNI AU dan RAAF mengawali latihan dengan sesi familiarization flight atau penerbangan familiarisasi. “Kegiatan diawali dengan briefing penerbangan yang mencakup berbagai informasi terkait kondisi penerbangan, seperti ATC, PLLU, cuaca, serta faktor-faktor risiko lainnya,” jelas TNI AU.

Baca Juga: Bali Internation Airshow 2024, Bukti Indonesia Mampu Bersaing di Industri Dirgantara

Secara umum, latihan bersama ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat kolaborasi, profesionalisme, dan komitmen bersama untuk kemajuan bersama.

Sejumlah kegiatan latihan yang akan diikuti oleh personel kedua angkatan udara dalam latma kali ini meliputi Subject Matter Expert Exchange (SMEE); Container Delivery System (CDS); serta simulasi dropping target secara dinamis menggunakan pesawat C-130J Super Hercules. Keseluruhan kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas di antara personel TNI AU dengan RAAF. (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.