HANKAM

Gabungkan Isu Bencana dan Siber, Latihan ADMM-Plus di Banten Kerahkan 2.200 Personel

Latihan militer
Latihan militer berskala besar bertajuk Exercise Trident Resolve (XTR) di Provinsi Banten. (IDM /Faisal Ramadhan)

Jakarta, IDM - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggandeng 19 negara anggota ADMM-Plus untuk menggelar latihan militer berskala besar di Provinsi Banten. Latihan bertajuk Exercise Trident Resolve (XTR) ini secara unik menggabungkan isu penanggulangan bencana dan pertahanan siber.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pertahanan Singapura, mindef.gov.sg, Kamis (24/9), latihan yang berlangsung pada 20–26 September 2026 ini melibatkan sekitar 2.200 personel yang terdiri atas unsur militer dan lembaga sipil.

Baca Juga: RTM Tan Malaka akan Disulap jadi Wisata Sejarah

XTR mencatatkan sejarah sebagai Latihan Lapangan Gabungan Field Training Exercise (FTX) ADMM-Plus pertama yang mengintegrasikan tiga Kelompok Kerja Pakar (Expert Working Group/EWG) sekaligus, yakni Keamanan Siber (Cyber Security), Bantuan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana (Humanitarian Assistance and Disaster Relief), serta Kedokteran Militer (Military Medicine). Latihan ini juga menjadi yang terbesar dalam satu dekade terakhir berdasarkan jumlah peserta.

Dilaksanakan di tujuh lokasi darat dan wilayah laut, XTR dirancang untuk melatih koordinasi serta respons cepat terhadap bencana skala besar. Materi latihan mencakup operasi pencarian dan pertolongan (search and rescue), evakuasi dan perawatan medis, penanganan bahan kimia, biologi, dan radiologi, hingga perbaikan infrastruktur.

Pada komponen maritim, dua kapal perang dikerahkan untuk memperkuat fasilitas medis darat, yakni kapal rumah sakit Indonesia KRI dr. Soeharso dan kapal tank pendarat Singapura RSS Endeavour. Kehadiran kedua kapal ini bertujuan memperluas jangkauan layanan kesehatan dalam merawat korban simulasi bencana.

Latihan militer
(IDM /Faisal Ramadhan)

Di sisi lain, fokus keamanan siber diarahkan pada perlindungan sistem dan integritas informasi dari potensi gangguan atau kompromi data selama operasi tanggap bencana multinasional berlangsung.

Tak hanya simulasi, para personel militer dan lembaga sipil yang terlibat juga terjun langsung membantu masyarakat Banten melalui bakti sosial, layanan kesehatan masyarakat, dan pembangunan infrastruktur lokal.

Baca Juga: TNI AL dan Pasukan Asing Latihan Cocokkan Data Gigi Korban Bencana di Anyer

Latihan ini diikuti oleh 11 negara anggota ASEAN serta 8 negara mitra "Plus" (Australia, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Republik Korea, Rusia, dan Amerika Serikat).

Selain militer, sejumlah lembaga sipil dan internasional turut berpartisipasi aktif, antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BASARNAS, Palang Merah Indonesia (PMI), YAKKUM, UN OCHA, AHA Centre, ADMM Cybersecurity and Information Centre of Excellence (ACICE), serta S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS).

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.