Evakuasi Hari Ketiga, Fokuskan Pencarian Black Box

Jakarta, IDM - Memasuki hari ketiga evakuasi, pencarian Black Box Sriwijaya Air mulai menemukan titik terang. KRI Rigel-933 yang memiliki teknologi sonar canggih telah menentukan bahwa titik Black Box Pesawat yang jatuh di sekitaran Kep. Seribu berada di kedalaman 23 meter.
Saat ini TNI AL terus menerjunkan pasukan yang terdiri dari Komando Pasukan Katak (Kopaska), Dislambair, Denjaka serta Pasukan Intai Amfibi (Taifib) untuk menyisir titik yang telah ditentukan disekitaran KRI Rigel-933.

Sebelumnya, Lokasi black box sudah ditandai Informasi bagaimana lokasi diduga black box pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ditemukan datang dari Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Pada konferensi pers Minggu (10/1/2021) sore.
Hadi mengungkapkan bahwa tim gabungan pencari telah menandai lokasi yang diduga kuat merupakan black box milik pesawat tersebut. "Saat ini terus berupaya untuk mendapatkan black box yang posisinya juga diduga kuat adalah posisi black box yang kita cari," kata Hadi dalam konferensi pers yang dilakukan di Jakarta International Container Terminal (JICT) 2, Minggu (10/1/2021). (man/rgp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































