Empat Pati TNI AL Sandang Pangkat Baru

JAKARTA, IDM - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menerima laporan kenaikan pangkat empat Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Laut di Ruang Tamu KSAL, Markas Besar TNI Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (25/9).
Keempat Pati TNI AL yang menyandang pangkat baru tersebut adalah Pa. Sahli Tk. III Bidang Banusia Panglima TNI Laksda TNI Weko Pamudji Mulyo, Gubernur Sekolah Tinggi Intelijen Negara BIN Laksda TNI Ivan Yulivan, Pati Sahli Kasal Bidang Dokstraops Laksma TNI Sujono, dan Wakil Dekan Fakultas Keamanan Nasional UNHAN Laksma TNI Endro Legowo.
Sebelumnya, keempat Pati TNI AL tersebut telah melaksanakan laporan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi bersama sembilan Pati TNI AD dan enam Pati TNI AU yang dipimpin Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Aula Gatot Soebroto Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.
Pelaksanaan mutasi jabatan Perwira Tinggi TNI tersebut berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/666/VIII/2020 tanggal 26 Agustus 2020 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Tentara Nasional Indonesia. (WAN)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































