Eks KRI Teluk Hading-538 jadi Sasaran Tembak Rudal di Latopslagab 2026

Jakarta, IDM – Eks KRI Teluk Hading-538 resmi purnatugas dari jajaran alutsista TNI AL. Kapal angkut tank legendaris ini segera menjalani misi terakhirnya sebagai sasaran tembak rudal dalam latihan operasi laut gabungan (Latopslagab) 2026.
Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Dankodaeral) VI Laksda Andi Abdul Aziz memimpin langsung tradisi pelepasan sang "Veteran Samudera" di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (16/4). Penghormatan terakhir diberikan melalui jajar kehormatan saat kapal mulai ditarik oleh KRI Leuser-924 menuju laut lepas.
"Selamat jalan, Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538. Terima kasih atas darma baktimu. Jalesveva Jayamahe," ucap Andi saat melepas kepergian kapal tersebut, dikutip dari keterangan Dispen Kodaeral VI, Jumat (17/4).
Baca Juga: TMMD ke-128, TNI AD Fokus Pembangunan di 47 Daerah
Uji Coba Rudal Strategis
Penenggelaman Eks KRI Teluk Hading-538 menjadi bagian utama dari skenario gladi lapangan Latopslagab 2026. Latihan yang dibuka oleh Pangkoarmada RI Laksdya Denih Hendrata di Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa (14/4) ini bertujuan menguji keandalan senjata strategis matra laut.

TNI AL bakal mengerahkan berbagai peluru kendali (rudal) antikapal untuk menghantam sasaran tersebut. Beberapa di antaranya adalah rudal Exocet MM40 Block III yang menjadi andalan kapal kombatan, serta rudal jarak menengah C-705 yang memiliki daya hancur tinggi.
Selain rudal antikapal, latihan yang berlangsung hingga 25 April ini juga menguji sistem pertahanan udara seperti VL Mica dan Mistral Manpad untuk menangkal ancaman proyektil lawan.
Baca Juga: 100 Perwira TNI AD Dikirim ke Pakistan Ikuti Pendidikan Danyon-Danki
Rekam Jejak dari Jerman Timur
Eks KRI Teluk Hading-538 memiliki sejarah panjang dalam memperkuat kekuatan maritim Indonesia. Kapal jenis Frosch-class (Type 108) ini merupakan buatan galangan VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur pada 1977.
Indonesia mengakuisisi kapal ini bersama puluhan kapal eks-Jerman Timur lainnya di era Menristek B.J. Habibie pada awal 1990-an. Kapal yang semula bernama Cottbus (614) ini resmi masuk dinas aktif TNI AL pada 12 Juli 1994.
Selama tiga dekade, kapal ini menjadi tulang punggung Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil). Rekam jejaknya mencakup berbagai operasi militer pendaratan amfibi hingga misi kemanusiaan vital, termasuk distribusi logistik berskala besar saat penanganan tsunami Aceh tahun 2004.
Misi terakhirnya sebagai sasaran tembak menjadi kontribusi final sang legenda untuk memastikan kesiapan tempur dan akurasi persenjataan TNI AL berada pada level tertinggi. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































