Dua Taruna TNI Lulus di NDA Jepang dan Terima Penghargaan

Jakarta, IDM – Dua taruna TNI dari Akademi Militer (Akmil) dan AAU berhasil lulus pendidikan S1 di National Defence Academy (NDA) Jepang melalui program beasiswa kerja sama antara Kemhan RI dan Kemhan Jepang.
Dilansir keterangan dari Humas Kemhan, Selasa (8/4) kedua taruna ini menempuh pendidikan setelah melalui seleksi ketat. Kini keduanya resmi menyelesaikan pendidikan dan dilantik dalam upacara penutupan pendidikan NDA Jepang beberapa waktu lalu.
Baca Juga: KSAD Dampingi Presiden Hadiri Panen Raya di Majalengka
"Mereka adalah Letnan Dua Tek Firjatullah Radita Putra (Taruna AAU) dan Letnan Dua Inf Muhammad Rizki Arifudin (Taruna Akmil AD)," tulis keterangan Humas Kemhan.
Dalam kesempatan ini pula, Letda Tek Firjatullah meraih penghargaan sebagai Lulusan Terbaik Taruna Asing, yang diserahkan langsung oleh Presiden NDA Jepang.
Baca Juga: Halalbihalal di Mabesal, Ini Pesan KSAL kepada Seluruh Prajurit
Prestasi ini menjadi bukti nyata keberhasilan program beasiswa Kemhan RI serta menunjukkan peran aktif Indonesia dalam memperkuat kerja sama pertahanan bilateral dengan Jepang. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































