HANKAM

Dramatis! Kopaska Rebut Kembali Pesawat yang Dibajak di Sidoarjo

Prajurit Kopaska
Prajurit Kopaska mengevakuasi sandera dari pesawat maskapai Merpati di Lanudal Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (28/4). (IDM/Muhammad Hidayat)

Surabaya, IDM – Suasana di Landasan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Juanda mendadak tegang saat Komando Pasukan Katak (Kopaska) mengepung sebuah pesawat penumpang, Selasa (28/4). Tepat pukul 10.00 WIB, sejumlah prajurit dengan perlengkapan taktis serba hitam beserta senjata lengkap, melakukan serbuan kilat untuk membebaskan sandera yang ditawan kelompok pembajak.

Aksi ini merupakan fase final latihan pasukan khusus 2026 yang berlangsung selama 14 hari, dari 15-28 April. Dalam latihan puncak yang berakhir pukul 11.00 WIB ini, Kopaska mengintegrasikan seluruh materi operasi khusus ke dalam satu skenario krisis yang kompleks.

Operasi Cepat Satu Jam

Begitu pintu pesawat terbuka, tim elite langsung melakukan penetrasi ke dalam kabin. Menggunakan dukungan kendaraan taktis dan unit pengamanan area, personel Satgas Batara-26 berhasil melumpuhkan pelaku dalam waktu singkat. Namun, ancaman belum berakhir karena pembajak meninggalkan Improvised Explosive Device (IED) atau bom rakitan di dalam pesawat.

Baca Juga: Kronologis Kematian Jeki Murib, Tokoh OPM yang Ditembak Mati TNI

Untuk menetralisir risiko, tim Explosive Ordnance Disposal (EOD) atau penjinak bom segera diturunkan. Mereka mengerahkan Unmanned Ground Vehicle (UGV) atau kendaraan darat tanpa awak untuk mengidentifikasi bahan peledak tanpa harus membahayakan nyawa prajurit secara langsung.

"Prajurit harus cakap melakukan identifikasi dengan bantuan sinar-X (X-Ray), evakuasi, hingga tahapan disposal atau pemusnahan bom di lokasi steril," tegas Komandan Kopaska Koarmada RI Laksamana Pertama Sadarianto.

Prajurit Kopaska
Aksi taktis prajurit Kopaska lakukan infiltrasi lewat sayap pesawat dalam simulasi antiteror. (IDM/Muhammad Hidayat)

Fokus pada Keamanan Objek Vital

Sadarianto menjelaskan, latihan yang berlangsung intens selama satu jam ini menguji ketangkasan prajurit dalam mengoperasikan teknologi deteksi terbaru. Lanudal Juanda dipilih sebagai lokasi simulasi karena merupakan instalasi militer sekaligus objek vital nasional yang strategis.

Baca Juga: Dilmilti Jakarta akan Gelar Sidang Perdana Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Besok

"Meski latihan rutin menjadi instrumen yang sangat mahal saat ini, semangat Kopaska tidak pernah surut. Kami terus mengasah profesionalisme prajurit untuk mendukung tugas pokok TNI dan memastikan keamanan wilayah kerja TNI AL tetap terjaga," imbuhnya.

Latihan yang dipimpin oleh Komandan Satuan Kopaska Koarmada II Kolonel Laut (P) Wido Dwi Nugraha ini, resmi ditutup dengan capaian nihil kecelakaan (zero accident). Keberhasilan tim dalam merebut kembali pesawat dan menghancurkan bahan peledak menjadi tolok ukur kesiapan tempur personel Kopaska dalam menghadapi ancaman sabotase maupun terorisme di tanah air. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.