Di Balik Simulasi Pertempuran Kota: Mencari Berita, Menjaga Keselamatan

Di balik setiap berita yang datang dari daerah konflik, terdapat kerja jurnalis yang harus mempertaruhkan nyawa. Di tengah ketidakpastian dan kondisi yang sarat risiko, mereka dituntut untuk tetap menghadirkan informasi yang aktual, akurat dan dapat dipercaya oleh publik. Namun, di balik tugas itu, terdapat satu prinsip: “tidak ada berita yang sepadan dengan nyawa”, yang berarti keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Jakarta, IDM – Pagi itu terasa berbeda. Kami, 30 atan dari ruang redaksi atau meja kerja seperti biasanya. Kamera dan perlengkapan liputan tetap dibawa, namun kali ini kami dilengkapi dengan helm serta rompi antipeluru yang melekat di tubuh. Tidak hanya itu, sebelum memasuki kegiatan inti, kami juga menerima pembekalan mengenai gerakan dasar perorangan, mulai dari posisi telungkup, jongkok, hingga berguling. Usai pembekalan singkat selama kurang lebih 15 menit, kami diarahkan untuk menyusuri kawasan hutan menuju sebuah bangunan dengan sejumlah ruangan kosong serta tumpukan ban yang memenuhi sisi-sisinya.
Di tengah suasana yang tidak lazim itu, suara prajurit Brigade Parako 1 Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) terdengar. Instruksi diberikan sebelum langkah pertama benar-benar dimulai. Dalam misi kali ini, satu tim terdiri dari tujuh personel Brigade Parako 1 Pasgat, meliputi komandan unit, wakil komandan unit, satu pendobrak (breacher), dan sisanya adalah penembak senapan. Sementara itu, kami dibagi dalam kelompok beranggotakan lima orang.
Selama pergerakan berlangsung, kami diarahkan untuk berbaris rapi di belakang prajurit. Bukan sekadar berlindung di balik tubuh. Dalam posisi tersebut, setiap langkah yang kami ambil harus ‘seirama’ dengan para prajurit elite TNI Angkatan Udara. Tidak mudah, tapi kami tidak boleh lengah sebab situasi dapat berubah sewaktu-waktu tanpa peringatan dan nyawa menjadi taruhan.
Baca Juga: Hampir Tiga Tahun, Sertu Gabriel Jaga Rimba Sanggabuana
Tidak lama berselang setelah pengarahan, momen yang dinanti akhirnya tiba. Suara dobrakan pintu memecah kesunyian. Itu tandanya, pertempuran dalam kota dimulai. Dalam dunia militer, skenario seperti ini dikenal dengan Military Operations in Urban Terrain (MOUT), yaitu operasi pertempuran di lingkungan perkotaan dengan jarak dekat (Close Quarters Battle/CQB). Dalam kondisi tersebut, para prajurit dituntut untuk menjalankan misi dengan cepat, tepat, dan disiplin tinggi. Kelengahan sekecil apa pun dapat berakibat fatal, bahkan menjadi target bidikan lawan.
Setelah pintu berhasil dibuka, seluruh personel bergerak sigap mengambil posisi di dalam bangunan, diikuti kami yang tetap berada dalam formasi perlindungan. Di antara tumpukan ban yang menjadi titik perlindungan, setiap pergerakan berlangsung terukur. Barisan depan dan belakang jurnalis dijaga ketat oleh prajurit yang memastikan situasi tetap aman dan terkendali.

Selanjutnya, penyisiran ruangan dilakukan secara bertahap. Tidak ada pergerakan tanpa instruksi. Setiap langkah, baik itu maju, berhenti, atau bergeser, hanya bisa dilakukan setelah prajurit memastikan kondisi aman, area dinyatakan steril, atau musuh berhasil dilumpuhkan. Di tengah pergerakan yang penuh dengan kehati-hatian itu, kami tetap berupaya menjaga fokus dan mencermati keadaan. Sesekali, lensa kamera kami arahkan ke arah depan, belakang, atau sudut-sudut ruangan untuk merekam setiap detail yang terjadi di dalam pertempuran dalam kota.
Suara letupan senjata terus terdengar di sepanjang pergerakan, memecah jeda-jeda singkat di antara instruksi dan langkah tim. Setelah seluruh ruangan berhasil disisir, misi pertempuran dalam kota mencapai titik akhir, setelah berlangsung kurang lebih selama 10 menit. Satu per satu, kami dan prajurit Brigade Parako 1 Pasgat, keluar dari bangunan kosong tersebut.

Perjalanan hari itu belum selesai. Kami kemudian diajak kembali menyusuri kawasan hutan untuk melakukan patroli kelompok. Rombongan dibagi menjadi dua kelompok yang bergerak secara bersamaan, dengan bagian depan dan belakang tetap dijaga oleh prajurit Brigade Parako 1 Pasgat.
Patroli diawali dengan medan semi tertutup, di mana deretan pohon-pohon tinggi menjadi satu-satunya pembatas sepanjang pergerakan. Namun, tidak lama berselang, jalur pergerakan berubah memasuki area terbuka. Berbeda dengan sebelumnya, ruang gerak kali ini terekspos, hingga seluruh pergerakan tampak lebih mudah terpantau.
Baca Juga: Kolaborasi Taktis: Identifikasi 20 Individu Macan Tutul Sanggabuana Dan Temukan Teori Baru
Di tengah kondisi itu, suara letupan senjata tiba-tiba terdengar. Seketika, para jurnalis langsung mengambil posisi tiarap sebagai respons atas potensi ancaman. Prajurit Pasgat segera melakukan pengecekan situasi, sebelum memberikan instruksi lanjutan agar rombongan bergerak mencari perlindungan. Di balik gundukan tanah, kami dan prajurit Pasgat mengambil posisi untuk berlindung sementara.
Di balik rangkaian situasi tersebut, apa yang kami alami sepanjang hari itu telah dirancang dalam sebuah skenario latihan. Skenario tersebut merupakan bagian lokakarya (workshop) yang digelar oleh Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau) bertajuk “Sinergi TNI AU dan Media Massa Tingkatkan Kompetensi Jurnalis dalam Menghadapi Tugas di Daerah Konflik”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Markas Brigade Parako 1 Pasukan Gerak Cepat (Pasgat), Jakarta, pada 11-12 Juni 2026 dan diikuti oleh 30 jurnalis dari berbagai media massa nasional, baik televisi, daring, maupun cetak.
Pada hari pertama, para peserta memperoleh materi psikologi lapangan dari Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara (Dispsiau), serta pembekalan teori dan praktik menembak. Kegiatan dilanjutkan pada hari kedua, ketika para jurnalis mengikuti simulasi melakukan peliputan di daerah konflik. Simulasi dibuat menyerupai kondisi nyata guna meningkatkan pemahaman para jurnalis dan memberi gambaran dinamika serta tantangan peliputan didaerah yang sarat dengan risiko tinggi.
Kolaborasi Strategis
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI I Nyoman Suadnyana menyampaikan bahwa media massa memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipercaya, khususnya ketika menja-lankan tugas jurnalistik di situasi yang penuh dengan risiko, seperti peliputan di daerah konflik.
Baca Juga: Satuan Tugas Macan Tutul: Si Baret Hijau Penjaga Rimba Sanggabuana
Menurutnya, peliputan di medan konflik tidak hanya menuntut kemampuan jurnalistik dalam menyampaikan fakta dan melaporkan berita dengan baik. Seorang jurnalis juga harus mampu memahami aspek keselamatan diri, mitigasi risiko, kerja sama, serta kemampuan mengambil keputusan secara tepat di tengah kondisi yang penuh dengan tantangan.
Hal tersebut yang kemudian melatarbelakangi Dinas Penerangan Angkatan Udara menyelenggarakan lokakarya bagi para jurnalis sebagai bekal apabila mereka harus bertugas di daerah konflik. Marsma TNI I Nyoman mengungkap bahwa lokakarya tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya TNI Angkatan Udara membangun kolaborasi strategis dengan insan pers dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan mendukung terwujudnya praktik jurnalistik yang profesional serta aman di lapangan.
“Melalui workshop ini, TNI Angkatan Udara berupaya membangun sinergi serta berbagi pengetahuan dan pengalaman di antara prajurit yang berkompeten dalam operasi di medan berisiko dengan insan pers, agar memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai saat melaksanakan liputan di daerah konflik,” pungkas Kadispenau.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































