HANKAM

Demi Keselamatan Kapal Selam, TNI AL Matangkan Latihan Bareng Korsel di 2026

Kadisopslatal Laksma Hariyo Poernomo
Kadisopslatal Laksma Hariyo Poernomo berdiskusi dengan jajaran petinggi Angkatan Laut Korea Selatan dalam pertemuan bilateral di Jinhae. Pertemuan strategis ini membahas penguatan kerja sama pertahanan bawah air dan rencana latihan bersama Divex 2026. (Foto: Dok. TNI AL)

Jakarta, IDM – Tragedi di laut dalam tak boleh terulang. Menyadari risiko tinggi operasi bawah air, TNI AL mematangkan rencana latihan besar Divex 2026 bersama Angkatan Laut Korea Selatan.

Agenda ambisius ini memprioritaskan penguasaan prosedur darurat penyelamatan kapal selam (submarine rescue) di kedalaman ekstrem. Langkah tersebut menjadi komitmen Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali dalam memutakhirkan kemampuan taktis personel agar sepadan dengan standar militer global.

Baca Juga: Prabowo ke Moskow dan Resep Negara Kuat

Delegasi yang dipimpin oleh Kepala Dinas Operasi dan Latihan Angkatan Laut (Kadisopslatal) Laksma Hariyo Poernomo baru saja menuntaskan kunjungan ke Pangkalan Jinhae, Korea Selatan. Kehadiran mereka di sana bukan sekadar kunjungan resmi, melainkan untuk memantau langsung latihan multinasional Salvex 2026 dan menyerap teknologi militer terbaru.

Hariyo menegaskan, kolaborasi ini merupakan kunci untuk memperbarui doktrin penyelamatan bawah air Indonesia.

"Model organisasi, kemampuan teknis, serta peralatan modern yang dimiliki Sea Salvage Rescue Squadron (SSRS) merupakan referensi berharga bagi kita," ungkap Hariyo, dikutip dari keterangan Dispenal di Jakarta, Senin (13/4).

Selama di Negeri Ginseng, tim TNI AL menelaah pengoperasian Remotely Operated Vehicle (ROV) atau robot bawah laut kendali jarak jauh. Alat ini berfungsi sebagai "mata" dan "tangan" tambahan dalam misi evakuasi di dasar laut yang sulit dijangkau manusia. Mereka juga mendalami teknik penyelaman saturasi (saturation diving) yang memungkinkan penyelam bekerja lebih lama di tekanan air tinggi.

Efisiensi komando juga menjadi catatan penting dalam perjalanan ini. Hariyo mengapresiasi cara Angkatan Laut Korea Selatan menyatukan unit penyelam dengan kapal pendukung dalam satu garis kendali. Pola terintegrasi ini diproyeksikan menjadi bahan analisis serius untuk merombak struktur prajurit Satuan Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Satkoppeba) TNI AL agar lebih gesit.

Baca Juga: Modernisasi Koppeba, TNI AL Kaji Penyatuan Unsur Penyelam dan Kapal Pendukung

"Hal ini akan menjadi bahan analisa penting untuk meningkatkan keterampilan prajurit kita ke depan, khususnya dalam prosedur penyelamatan kapal selam dan operasi penyelaman laut dalam," pungkasnya.

Melalui kematangan rencana Divex 2026, TNI AL berupaya memastikan setiap kapal selam yang menyelam di perairan Nusantara memiliki jaminan keselamatan dengan standar internasional terbaik. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.