Danlantamal VIII Buka Sidang Ketua Komite Perbatasan Indonesia-Filipina ke-39

Jakarta, IDM - Danlantamal VIII Laksamana Pertama TNI Nouldy J Tangka, membuka pelaksanaan sidang Ketua Komite Perbatasan Indonesia-Filipina ke-39 di Mako Lantamal VIII, Manado, Selasa (22/11).
Sidang dilakukan secara virtual antara delegasi Indonesia dengan Filipina melalui video converence. Keduanya membahas beberapa hal, seperti bidang patroli dan komunikasi, intelijen dan manajemen lintas batas.
Nouldy mengatakan, kegiatan ini juga membicarakan permasalahan dan tantangan di wilayah perbatasan dalam rangka menjaga stabilitas sebagai negara tetangga yang memiliki budaya dan kepentingan yang sama.
"Stabilitas di wilayah perbatasan merupakan tanggung jawab kedua negara untuk memastikan keamanan warga negara dan mencegah ancaman terhadap keamanan nasional," ujarnya dikutip dari keterangan Pen Lantamal VIII, Rabu (23/11).
Baca: KSAL: Selayaknya Dankormar Dipimpin Jenderal Bintang Tiga
Rapat yang akan dilaksanakan selama 22-23 November tersebut sejalan dengan salah satu perintah harian Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana (KSAL) TNI Yudo Margono, yakni jalin soliditas dengan segenap komponen pertahan dan keamanan negara menuju sinergitas dalam kesemestaan. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































