Dankormar: Menjadi Prajurit Marinir Bukan Pekerjaan, tetapi Pengabdian untuk Negara

Jakarta, IDM - Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Widodo Dwi Purwanto, menegaskan kepada peserta kursus perwira remaja Tandiktukpa dan Tandiktukpakat, menjadi prajurit Marinir bukan ladang pekerjaan, tetapi pengabdian untuk negara dan bangsa, Pasuruan, Selasa (8/11).
Oleh karena itu, lanjut Widodo, menjadi prajurit marinir butuh dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga pikiran bahkan nyawa.

"Untuk itu saya berharap kepada seluruh perwira yang ada di sini fokus meningkatkan kesiapan tempur Korps Marinir," tegasnya, dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Rabu (9/11).
Widodo menjelaskan, kesiapan satuan tempur prajurit Marinir terbagi menjadi kesiapan personil, material tempur, dan latihan. Melalui kesiapan tempur, maka seorang Danton perlu mengerti pentingnya keteladanan dalam kepemimpinan, pemikiran, dan ucapan yang harus sesuai.
"Karena keteladanan adalah faktor yang paling penting dalam kepemimpinan, terutama dalam menyiapkan pleton untuk siap bertempur," pungkasnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































