HANKAM

Cerita di Perbatasan, Kepala Suku Daniel Amo: Kami Tidak Punya Apa-apa untuk Balas Kebaikan TNI Hanya Doa

Cerita di Perbatasan, Kepala Suku Daniel Amo: Kami Tidak Punya Apa-apa untuk Balas Kebaikan TNI Hanya Doa
Masyarakat pperbatasan Papua-PNG lepas kepergian TNI. (Dispenad)

Jakarta, IDM - Momen haru terlihat saat masyarakat Disrik Waris Kabupaten Keerom di Perbatasan Indonesia-Papua New Guinea mempersembahkan tarian adat bagi personel Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 126/KC Pos Kout Kalipay, Distrik Waris Kab. Keerom yang akan mengakhiri masa penugasannya

Tarian adat tersebut dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan dan wujud kebersamaan antara prajurit TNI dengan masyarakat di perbatasan yang selama ini terjalin.

Personel Satgas Yonif 126/KC Pos Kout Kalipay selama kurang lebih 11 bulan telah hidup berdampingan dengan masyarakat di perbatasan dan telah meninggalkan kesan yang begitu baik dan mendalam bagi masyarakat. Kehadiran personel Satgas Yonif 126/KC sejak awal Desember 2021 disambut baik oleh masyarakat dan selama bertugas di perbatasan, personel Satgas banyak membantu kesulitan masyarakat dan berperan secara aktif maupun partisipatif dalam pemberdayaan wilayah di delapan kampung se-Distrik Waris, Kab. Keerom.

Kepala Suku Pund Daniel Amo sebagai Tetua Adat mengatakan bahwa dirinya mewakili masyarakat mengucapkan terimakasih kepada Wakil Komandan Satgas beserta anggotanya yang telah banyak membantu masyarakat selama melaksanakan tugas di Papua dan bersyukur bahwa selama personel Satgas dari Yonif 126/KC bertugas di Distrik Waris, keamanan terjamin dan tidak pernah ada sekalipun gesekan antara masyarakat dengan TNI.

“Saya senang bapak-bapak TNI telah banyak membantu masyarakat dan dapat kembali dengan aman kepada keluarga, itu yang saya harapkan dari bapak-bapak TNI dapat kembali dengan selamat” ujarnya.

Tarian adat mengarak Wadan Satgas Mayor Inf Wahidin Sobar dengan personel lainnya. Masyarakat dari berbagai elemen dan instansi turut hadir seperti petugas Distrik Waris, Puskesmas, Koramil, Polsek berbondong-bondong datang ke Pos untuk mengantar personel Satgas yang tidak lama lagi akan meninggalkan Pos untuk digantikan oleh Satgas lain dari Yonif 132/Bima Sakti yang sama-sama berasal dari wilayah Sumatera.

Pada kesempatan yang sama Kepala Suku Daniel Amo memberikan kenang-kenangan berupa Ikat Kepala, Noken dan Kalung yang menjadi ciri khas adat masyarakat Papua kepada Wadan Satgas Yonif 126/KC sebagai yang tertua pada acara tersebut. Tak hanya itu Daniel Amo juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Satgas Yonif 126/KC yang sudah banyak membantu warganya.

“Kami tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan bapak-bapak TNI semua, kamu hanya berdoa agar seluruh personel Satgas Yonif 126/KC kembali dengan selamat dan bertemu dengan keluarga,” kata Daniel. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.