HANKAM

Bukan Tanpa Alasan, Ini Pertimbangan Basarnas Hentikan Pencarian 23 Prajurit Marinir

Marinir
Pemberangkatan salah satu prajurit Marinir dari Lanudal Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Rabu (13/2) yang gugur tertimbun longsor di Cisarua, Bandung Barat. (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – Operasi besar-besaran pencarian prajurit Marinir korban longsor di Cisarua resmi berakhir. Tim Basarnas beserta pemerintah daerah memutuskan untuk menarik mundur personel dari lokasi kejadian setelah memastikan seluruh target pencarian telah terevakuasi dari timbunan material.

Keputusan penghentian ini merujuk pada pertimbangan teknis mengenai kondisi jenazah dan situasi medan yang semakin tidak memungkinkan. Faktor cuaca yang tidak menentu serta risiko kerusakan fisik pada korban menjadi alasan utama di balik perintah berhenti tersebut.

"Karena ini semuanya atas perintah berhenti dan lanjutnya dari Pemerintah Daerah, dalam hal ini yang dimotori oleh Basarnas, proses pencarian sudah dinyatakan selesai," ujar Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letjen (Mar) di Jakarta, Rabu (18/2).

Baca Juga: Pangkormar Sebut Hutan Lokasi Longsor Marinir Sudah Gundul dan Beralih Fungsi

Endi membeberkan alasan medis yang cukup memilukan. Semakin lama jenazah berada di bawah timbunan dengan kondisi cuaca ekstrem, risiko kerusakan jaringan tubuh akan semakin tinggi. Hal ini dikhawatirkan akan mempersulit proses pemulasaraan dan identifikasi lebih lanjut.

"Makin lama akan makin hancur kalau diambil itu, dan juga situasi kurang mendukung sehingga proses dinyatakan selesai," tegasnya.

Meski operasi pencarian berhenti, tugas tim evakuasi dianggap tuntas secara kuantitas. Data terakhir menunjukkan sebanyak 23 prajurit yang tertimbun sudah berhasil dievakuasi keluar dari titik longsor. Sebanyak 19 orang sudah kembali ke pelukan keluarga, sementara empat lainnya sedang menunggu kepastian identitas di meja DVI Polri.

Baca Juga: 4 Prajurit Marinir Korban Longsor Masih Diidentifikasi, Menunggu DNA 14 Hari

Situasi di lapangan kini mulai memasuki tahap pemulihan. Fokus utama otoritas setempat kini bergeser dari pencarian fisik ke pengolahan data pascabencana dan identifikasi korban sipil yang jumlahnya mencapai 83 orang.

"Secara keseluruhan sudah ketemu semua. Cuma yang empat ini belum teridentifikasi si A, si B-nya. Yang lainnya sudah selesai sesuai dengan keinginan pihak keluarga," pungkas Endi. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.