Bukan Sekadar Kunjungan, Ini Misi Kapal Perang Malaysia KD Lekir Datangi TNI AL di Jakarta

Jakarta, IDM – Kapal perang milik Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM), KD Lekir (F-26), bersandar di Tanjung Priok, Jakarta. Kedatangan kapal kombatan jenis korvet kelas Kasturi ini membawa misi strategis dalam memperkuat stabilitas keamanan di kawasan perairan regional.
Prajurit Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) III menyambut langsung kedatangan kapal tersebut pada Minggu (26/4). Kapal yang dipimpin oleh Letkol Megat Mohamad Sofwan Firdaus ini merupakan salah satu pilar kekuatan maritim Malaysia yang memiliki kemampuan tempur multiperan (multi-role).
Spesifikasi KD Lekir
KD Lekir bukan sekadar kapal patroli biasa. Kapal ini merupakan hasil rakitan galangan kapal Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) di Jerman. Meluncur perdana pada Mei 1983 dan resmi beroperasi sejak Agustus 1984, kapal ini telah melewati program peremajaan untuk menjaga kesiapannya.
Baca Juga: Masuki Tahap Akhir, TNI AD Percepat Pembangunan Jembatan Aramco di Desa Uning Mas
Dengan panjang 97,3 meter dan bobot penuh 1.850 ton, KD Lekir diawaki oleh sekitar 124 personel. Persenjataannya tergolong mematikan, mulai dari meriam utama Bofors 57 mm di bagian haluan, meriam MSI DS30B 30 mm untuk pertahanan diri, hingga delapan rudal antarkapal Exocet MM40 Block 2. Selain itu, kapal ini memiliki kemampuan antikapal selam melalui peluncur torpedo Eurotorp B515.

Misi Diplomasi dan Keamanan
Selain sandar kapal, agenda kunjungan berlanjut dengan pertemuan kehormatan di Markas Komando Kodaeral III pada Senin (27/4). Asisten Intelijen (Asintel) Kodaeral III Kolonel Laut (P) Saut Lagu Jendrit P., menerima langsung delegasi Malaysia yang dipimpin Atase Pertahanan Malaysia Letkol Anas Bin Yahya.
Komandan Kodaeral III Laksda Uki Prasetia, menegaskan kunjungan ini merupakan momentum krusial untuk meningkatkan koordinasi lapangan, terutama dalam menghalau kejahatan lintas negara.
"Kehadiran kapal perang ini kami harapkan mampu memperkokoh sinergi antara TNI AL dan Angkatan Laut Malaysia. Kolaborasi yang erat sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan keamanan maritim, seperti penyelundupan dan kejahatan transnasional lainnya," ujar Uki, dikutip dari keterangan Dispen Kodaeral III.
Baca Juga: Terbang ke Turki, 2 Perwira TNI AL Serap Ilmu Evakuasi Kapal Selam Mutakhir
Uki juga menambahkan, jalinan kerja sama ini akan terus dikembangkan melalui berbagai skema, mulai dari pertukaran informasi hingga latihan bersama di masa depan.
"Semoga hubungan ini berlanjut lewat pertukaran pengalaman dan informasi. Komunikasi yang efektif adalah kunci utama dalam menjaga stabilitas kawasan maritim kita bersama," imbuhnya.
Selama di Jakarta, para awak kapal KD Lekir dijadwalkan mengikuti serangkaian kegiatan sosial dan olahraga bersama prajurit TNI AL untuk mempererat hubungan emosional antarkedua angkatan laut. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































