Brigade Infanteri Pengamanan Ibu Kota 1/Jaya Sakti Garda Terdepan Penjaga Keamanan Dan Kondusivitas Ibu Kota

Brigade Infanteri Pengamanan Ibu Kota 1/Jaya Sakti merupakan satu-satunya pasukan pemukul Infanteri yang dimiliki Kodam Jaya sebagai unsur pelaksana. Brigif PIK 1/JS ini memiliki tugas menyelenggarakan pertempuran darat dengan menggunakan kendaraan lindung lapis baja dalam rangka mendukung tugas Kodam Jaya. Selain melaksanakan Operasi Militer Perang (OMP), Brigif PIK 1/JS juga melaksanakan fungsi utama yaitupengamananibu kota di antaranya penanganan konflik sosial, pengamanan VVIP dan pengamanan objek vital nasional. Meski begitu, Brigade Infanteri ini pun dilibatkan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), jika ibu kota mengalami bencana seperti banjir, longsor dan lain sebagainya maka mereka pun diterjunkan untuk membantu warga terdampak bencana.
Jakarta, IDM – Langit cerah kala tim Redaksi Indonesia Defense Magazine menyambangi Markas Brigade Infanteri (Brigif) Pengamanan Ibu Kota (PIK) 1/Jaya Sakti (JS) di Jalan Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Dari depan gapura, telah terlihat suasana asri dengan kiri kanan jalan dijajari pohon angsana. Di pos penjagaan para provos tampak siaga, memantau situasi dan selalu bertanya bila ada pengunjung yang datang.
“Selamat datang di Brigif PIK 1. Ini adalah markas pasukan penjaga Ibu Kota Jakarta,” kata Kepala Staf Brigade (Brigif) PIK 1/JS, Letkol Inf Mohammad Ibrahim Sidik Soulisa menyambut kedatangan redaksi.
Ia menjelaskan pascavalidasi organisasi di TNI AD tahun 2025, Brigif PIK 1/JS memikul tanggung jawab spesifik yang tidak dimiliki semua prajurit Angkatan Darat, yaitu menjaga kondusivitas Jakarta yang berstatus sebagai barometer ekonomi dan sosial, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Ritme dinamika kejadian di ibu kota sangat tinggi dan kompleks. Jadi hal ini menuntut kami (prajurit) berada dalam kesiapsiagaan. Brigif PIK 1/JS menghadapi tantangan sosial kemasyarakatan yang jauh lebih dinamis dan tak terduga,” kata Soulisa.
Karena hal ini, Brigif PIK 1/JS menerapkan prinsip operasi modern demi menjaga wajah ibu kota. Satuan ini dituntut memegang lima pilar utama yaitu Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif (PRIMA), dengan target kesiapsiagaan operasional jajaran yang harus menyentuh angka 100 persen.
Saat ini, Brigif PIK 1 membawahi tiga Batalion Pengaman Ibu Kota yakni Yonif 201 (Pekayon Jakarta Timur), Yonif 202 (Bekasi), dan Yonif 203 (Tangerang) serta dua Batalion Infanteri Teritorial Pembangunan yaitu Yonif 843 (Kabupaten Bekasi) dan Yonif 899 (Depok).
Baca Juga: Satuan Tugas Macan Tutul: Si Baret Hijau Penjaga Rimba Sanggabuana
Tugas Pengamanan dan Operasi Kemanusiaan
Menurut Soulisa, menjaga keamanan, ketertiban dan stabilitas di wilayah ibu kota dan sekitarnya diperlukan kesiapsiagaan penuh, dedikasi serta profesionalisme dari garda terdepan pertahanan.
Lalu apa yang sebenarnya harus diamankan? Ia menjelaskan hal ini terkait fungsi dan tugas Brigif PIK 1, dalam hal ini melaksanakan perintah yang berjenjang dan koridor pengamanan sesuai ketentuan hukum yang melibatkan TNI.

Ia mencontohkan, apabila ada permintaan penguatan pengamanan dari Paspampres, dalam hal ini pengamanan Presiden , Wakil Presiden beserta keluarganya, Brigif PIK 1 juga mengirimkan personel.
“Kemudian terkait dengan asetaset vital. Selain pengamanan di Kodam, kita juga pengamanan di Mabes TNI, khususnya saat pergantian dengan satuan jajaran TNI yang lain, baik matra darat, udara, maupun laut. Kalau di luar dari itu, sifatnya hanya memback up saja,” jelas Soulisa.
Selain itu, Brigif PIK 1 juga menjalankan pengamanan Very Very Important Person (VVIP) baik untuk kepala negara (Presiden RI) maupun tamu undangan dari luar negeri. Soulisa memastikan tugas ini memiliki prosedur detail dalam menetapkan perimeter garis aman (clear) untuk pengamanan VVIP (Presiden), namun dituntut fleksibel dan adaptif terhadap perubahan situasi di lapangan. Brigif PIK 1 sendiri memiliki pasukan khusus untuk tugas ini yaitu Peleton Pengintai Keamanan (Ton Taikam).
Baca Juga: Kolaborasi Taktis: Identifikasi 20 Individu Macan Tutul Sanggabuana Dan Temukan Teori Baru
Lebih lanjut Soulisa menjelaskan Brigif PIK 1 dibekali keahlian mitigasi bencana alam untuk tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Brigif PIK 1 adalah tim pertama yang dikerahkan untuk menerjang banjir dan longsor di wilayah rawan genangan dalam cakupan Kodam Jaya.
“Kita juga memiliki tugas-tugas tambahan. Di antaranya dalam OMSP itu, seperti yang kita ketahui khusus untuk PIK ini, kita juga dibekali dengan penanggulangan bencana alam, baik itu banjir, longsor, di daerah-daerah wilayah Kodam Jaya,” kata Soulisa.

Pembinaan Sumber Daya Manusia dengan Penerapan Adaptasi Teknologi dan Digitalisasi
Menurut Soulisa, Brigif PIK 1 menerapkan sistem latihan terarah yaitu pembinaan prajurit baru dan disesuaikan dengan perkembangan alutsista melalui garis komando (Staf Operasi Angkatan Darat hingga tingkat Batalion).
Hal ini didukung dengan sarana prasarana berupa fasilitas latihan memadai. Selain itu, Brigif PIK 1 juga memanfaatkan kerja sama antarsatuan, seperti latihan menembak Kendaraan Taktis (Rantis) Anoa di Pusat Pendidikan Infanteri Cipatat.
“Sejauh ini manajemen kepemimpinan lapangan (Danbrig, Kasbrig, Danyon, Danki) berhasil menjaga kesiapsiagaan pasukan dengan tingkat human error nol (zero error),” tegas Soulisa.
Untuk teknologi siber di Brigif PIK 1, tengah gencar untuk memberikan edukasi prajurit agar bijak bermedia sosial sehingga tidak terhasut atau memicu masalah hukum (UU ITE) yang didukung oleh satuan siber berjenjang hingga markas besar Angkatan Darat.
“Kami juga menerapkan digitalisasi data. Penerapan sistem digital berbasis smartphone untuk pencatatan ID, rekam medis/status, serta hasil latihan (menembak) guna memangkas birokrasi file fisik,” kata Soulisa.
Terakhir, Brigif PIK 1 tengah mengkader awak baru untuk alutsista Mobile Command Post (MCP). Ini merupakan satu-satunya yang baru ada di jajaran Brigif 1.
Baca Juga: Hampir Tiga Tahun, Sertu Gabriel Jaga Rimba Sanggabuana
Alutsista ini memiliki sistem konektivitas yaitu komunikasi langsung menggunakan jaringan starlink berkesinambungan dengan drone yang dapat menayangkan suasana secara live.
“Drone tersebut pada dasarnya bisa terbang hanya dengan terhubung ke remote control tanpa WiFi/Starlink. Namun, untuk mengirimkan gambar secara live ke monitor di dalam MCP (agar bisa dipantau oleh Panglima/ Komandan), drone harus menggunakan jaringan Starlink atau WiFi,” kata Soulisa.
Untuk jarak jangkau, mampu terbang hingga lima kilometer jika tidak ada hambatan fisik seperti gedung-gedung perkantoran dan sebagainya. Drone ini memiliki fitur Auto Return (kembali otomatis), drone akan otomatis terbang kembali ke posisi pilot jika melewati batas jarak jangkau maksimal.

Selain drone, MCP juga memiliki enam buah Closed-Circuit Television (CCTV) portable yang bisa diletakkan secara tersembunyi, misalnya di atas pohon. CCTV ini menggunakan sistem dua arah daya, bisa di-charge langsung atau menggunakan baterai internal serta menggunakan jaringan GSM sendiri.
“Untuk ketahanan, CCTV sudah dirancang untuk penggunaan luar ruangan (outdoor) dan tahan terhadap berbagai kondisi cuaca,” kata Soulisa.
Kemudian pada MCP terdapat alat pengacak sinyal (Jammer). Fungsinya digunakan untuk memutus jalur komunikasi massa saat terjadi situasi kacau (chaos) atau demonstrasi anarkis, sehingga koordinasi massa terganggu.
“Frekuensi jammer dapat diatur sesuai kebutuhan, baik untuk mematikan jaringan GSM, CDMA, maupun frekuensi lainnya,” tutup Soulisa.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































