Bertemu Kepala Staf US Army, KSAD Jelaskan TNI AD Kembangkan Puslatpur

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman menerima kunjungan Chief of Staff of US Army General James Charles McConville di Mabesad, Jakarta Pusat, Jumat (12/5).
Pertemuan kedua jenderal yang terbilang sudah berlangsung kesekian kalinya ini menjadi tanda semakin rekatnya hubungan kerja sama antar Angkatan Darat kedua negara. Kerja sama militer tersebut antara lain latihan bersama, bidang pendidikan, bidang intelijen, dan logistik yang hingga kini masih berjalan menjadi topik pembahasan.
Selain diskusi mengenai kerja sama yang sudah terjalin, Dudung juga menyampaikan bahwa TNI AD akan mengembangkan pusat latihan tempur (puslatpur) TNI AD di Baturaja yang juga menjadi daerah latihan bersama (latma) Garuda Shield antara TNI AD dan US Army.
Baca Juga: Diproyeksikan ke Papua, Ini Model Latihan Prajurit Kodam III/Siliwangi, Ada Latihan Drone Tembak
Di akhir pertemuan, Jenderal Dudung dan General James sepakat untuk terus meningkatkan kerja sama militer kedua negara di masa yang akan datang. Sebagai penutup acara, kedua pimpinan Angkatan Darat tersebut saling bertukar cinderamata. (nhn)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































