Berkat Akmil, Letda Inf Admiral Yasser Sofyan Bisa Bersekolah di Inggris dan Jadi Delegasi ke Singapura

Jakarta, IDM – Hari Rabu, (23/7) kemarin, 827 Perwira baru TNI AD lulusan Akademi Militer (Akmil) Magelang diliputi kebahagiaan. Mereka baru saja disambut jadi keluarga besar TNI AD dalam sebuah tradisi penyambutan di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad).
Adalah Letda Inf Admiral Yasser Sofyan, pemuda asal Depok, Jawa Barat yang juga larut dalam kebahagiaan ini. Baginya ini adalah langkah awal yang penting untuk jenjang kariernya.
"Sebaik-baiknya orang, saya ingin masuk Kopassus, cuman yang tahu mana terbaik buat saya hanya angkatan darat, saya siap ditempatkan di mana saja," kata Admiral kepada Indonesia Defense Magazine.
Baca Juga: Perkuat Kolaborasi Antarlembaga Pendidikan Militer, Seskoau Terima Kunjungan Delegasi LSC Sri Lanka
Bagi Admiral, Akmil memberikan banyak pengalaman untuk dirinya. Lulusan SMA Taruna Nusantara ini mengaku di Akmil, dia ditempa untuk visioner, konsisten untuk memimpin di dalam kebersamaannya dengan taruna-taruna lain.
Tak hanya itu, di tahun keduanya berada di Akmil dia terpilih jadi satu-satunya taruna yang diutus bersekolah di Akademi Militer Royal Military Academy Sandhurst (RMAS) di Inggris yang merupakan salah satu akademi militer tertua dan paling bergengsi di dunia. Admiral juga menjadi delegasi Akmil untuk kunjungan ke Singapura selama satu minggu.
"Di Inggris, saya merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia bersama 35 negara lainnya. Di sana kami dibina dengan latihan berbeda, juga diberi kesempatan untuk mencoba seragam, senjatanya langsung dari negara sana," kata pemuda kelahiran 6 Desember 2002 ini.
Lebih lanjut, Admiral mengaku teknik peperangan yang diajarkan di Inggris benar-benar hal baru buat dirinya. Hal ini lantaran teknik peperangannya adalah musim dingin.
Baca Juga: Beri Pembekalan kepada Perwira Remaja AAU 2025, KSAU: Jadi Pemimpin Tangguh dan Visioner
"Mungkin yang paling saya berkesan adalah latihan di musim dingin. Karena Indonesia kan musim panas. Kalau di sana saya pernah latihan sampai minus 15-10 derajat, itu paling menantang dan paling berkesan," kata Admiral yang menempuh pendidikan di Akmil angkatan 2022.
Ia menjelaskan background cuaca dan juga medannya ini yang berbeda. Jadi sistem taktik peperangannya cenderung berbeda. Karena di Indonesia kan otomatisnya di hutan, rawa. Kalau di sana lebih minim hal tersebut.
"Berarti kan yang kita dapet itu adalah bagaimana taktik perang mereka itu berbeda karena musim. Itu yang salah satunya saya pelajari dan paling berkesan," tutup Admiral. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































