Benarkah Penambahan Kodam dan Yon TP Perluas Hegemoni TNI AD? Ini Kata KSAD

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak membantah tegas narasi yang menyebut pembentukan enam Kodam baru dan ratusan Batalion Teritorial (Yon TP) sebagai bentuk perluasan hegemoni TNI AD di ranah sipil.
Maruli menegaskan bahwa penataan organisasi merupakan hasil kajian mendalam untuk menyesuaikan dinamika dan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, sekaligus menyelaraskan struktur pertahanan di tingkat daerah melalui Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Baca Juga: Benarkah Penambahan Kodam dan Yon TP Perluas Hegemoni TNI AD? Ini Kata KSAD
"Jadi begini, negara kita dinamika tinggi, sangat luasnya seperti ini, kepulauan dan lain sebagainya. Untuk konsep pertahanan, saya kira sudah direncanakan dan berdasarkan diskusi panjang. Jadi bagaimana di tiap provinsi itu punya Kodam, bisa mengendalikan daerah itu untuk pertahanan, bisa juga turut membantu masalah di daerah tersebut," kata Maruli kepada wartawan di Mabesad, Jumat (9/10).
Lebih lanjut, Maruli menyampaikan bahwa selain untuk menjaga kedaulatan, keberadaan satuan baru tersebut difokuskan untuk mengoptimalkan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti percepatan penanganan bencana alam serta membantu pemerintah daerah jika dibutuhkan tanpa mengintervensi tata kelola pemerintahan setempat.
"Ya, kami punya lingkup tersendiri, istilahnya Forkopimda. Ya, jadi Forkopimda jelas, ada satu Gubernur dengan satu Pangdam dengan satu Kapolda. Polda sudah lengkap, provinsi sudah jelas lengkap, gitu kira-kira. 204 Batalion yang baru diresmikan itu juga mempermudah kita. Selain untuk pertahanan, kita mempermudah untuk mengatasi OMSP, bencana alam dan lain sebagainya," tegas Maruli.
Baca Juga: KSAD Geram Perumahan TNI jadi Markas Judol: Sangat Memalukan, Dihukum Tegas!
Untuk diketahui, Presiden Prabowo baru saja meresmikan 204 satuan baru, termasuk enam Kodam baru, yaitu Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah di Kepulauan Riau, Kodam XXVI/Mataram di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kodam XXVII/Sobe Sonbai di Nusa Tenggara Timur, Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha di Maluku Utara, Kodam XXIX/Mambruk di Papua Tengah, serta Kodam XXX/Rinambora di Nusa Tenggara Barat.
Selain itu, Presiden juga meresmikan 1 Divisi Parako II Pasgat, 1 Brigade Infanteri Marinir, 1 Brigade Parako Pasgat, 30 Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan, serta 150 Batalion Infanteri Teritorial Pembangunan. Satuan baru lainnya meliputi 3 Batalion Bantuan Tempur TNI AD yang terdiri atas satu batalion kavaleri, satu batalion artileri medan, dan satu batalion artileri pertahanan udara.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































