Alasan Pangkopassus Larang Prajurit Tanpa Kualifikasi Komando Pakai Baret Merah

Jakarta, IDM – Panglima Kopassus (Pangkopassus) Letjen TNI Djon Afriandi membeberkan alasan mengapa prajurit TNI AD tak berkualifikasi komando dilarang menggunakan baret merah.
Dilansir dari keterangan Penkopassus, Senin (27/4), menurut Djon, hal ini merupakan ketetapan atau bagian dari validasi organisasi. Kopassus sendiri akan menerima 1.400 prajurit TNI AD yang tak berkualifikasi komando bertugas di Kopassus.
Baca Juga: TNI AD Klarifikasi Dugaan Anggotanya Ditangkap Brimob di Makassar
"Bila kita menggunakan baret merah sedangkan teman-teman yang sudah berkualifikasi komando harus melaksanakan sampai 7 bulan pelatihan dan paketan untuk mendapatkan kualifikasi komando," kata Djon.
Ia menambahkan, untuk mendapatkan kualifikasi komando ada syaratnya. Pertama brevet komando, kedua pisau komando, ketiga baret merah sebagai baret komando. Sehingga tiga hal itu tidak boleh lepas dari satu paket yang sudah dilalui dalam pelatihan selama tujuh bulan atau sekarang empat bulan dengan persiapan tiga bulan.
Karena hal ini, Djon meminta kebesaran hati dari para prajurit yang tak berkualifikasi komando untuk bisa menerimanya dengan tidak menggunakan baret merah lagi sebagai pelengkap seragam dinas di satuan ini.
Mengganti dengan Pin
Walaupun tak menggunakan baret merah, Djon memastikan para prajurit yang tak berkualifikasi komando ini akan mendapatkan pin yang disematkan di seragam sebagai kebanggaan pernah bertugas di Kopassus.
Baca Juga: Momen Pangdivif Pimpin Latihan Renang Militer
"Kita memikirkan agar kebanggaan itu tetap perlu diperhatikan sehingga ikatan emosional teman-teman rekan perwira atau anggota yang pernah bertugas di Kopassus tetap terjalin dan tetap terjaga selamanya. Kita membuat pin khusus buat rekan-rekan yang kebetulan tidak berkualifikasi komando namun bertugas di Kopassus untuk menggunakan pin tersebut secara sah," kata Djon.
Ke depan Djon memastikan, pihaknya memahami bahwa perwira tersebut pernah bertugas di satuan Kopassus. "Sehingga kita yang di Kopassus setelah melihat pin akan tahu bahwa perwira tersebut, pernah berdinas dan mengabdi di satuan ini dengan pengabdian terbaiknya," tutupnya. (rr)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































