HANKAM

4 Prajurit Marinir Korban Longsor Masih Diidentifikasi, Menunggu DNA 14 Hari

Pangkormar Letjen (Mar) Endi Supardi
Pangkormar Letjen (Mar) Endi Supardi di Markas Komando Korps Marinir, Kwitang, Jakarta, Rabu (18/2). (IDM/Aini Tartinia)

Jakarta, IDM – Kepastian identitas empat prajurit Marinir korban longsor Cisarua kini bergantung pada hasil uji laboratorium. Tim DVI Polri berpacu dengan waktu melakukan identifikasi DNA setelah sidik jari para korban tak lagi memungkinkan untuk dipindai akibat kondisi jenazah yang tidak utuh.

Waktu 14 hari menjadi tenggat penantian bagi keluarga untuk membawa pulang jenazah sang prajurit. Penantian panjang ini terjadi karena prosedur identifikasi berpindah dari metode sidik jari yang hanya butuh hitungan jam, ke metode DNA yang lebih kompleks.

Baca Juga: Kemhan RI: Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Bagian dari Kerja Sama Pertahanan

"DVI sudah pastikan empat jenazah ini anggota TNI, tapi permasalahannya kita belum tahu si A, si B, atau si C-nya," ungkap Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letjen (Mar) Endi Supardi di Jakarta, Rabu (18/2).

Endi memohon maaf karena proses ini memakan waktu lebih lama dari perkiraan awal. Kondisi jenazah yang sudah lama tertimbun membuat tim medis harus mengambil langkah ekstra demi akurasi data sebelum diserahkan ke pihak keluarga.

Petugas juga telah mengumpulkan sampel darah dari orang tua dan keluarga inti untuk mencocokkan profil genetika korban. Langkah ini menjadi kunci terakhir untuk memisahkan identitas antara anggota TNI dengan puluhan warga sipil yang turut menjadi korban dalam tragedi tersebut.

Baca Juga: Pangkormar Sebut Hutan Lokasi Longsor Marinir Sudah Gundul dan Beralih Fungsi

"Kita sudah ambil darah dari ibu, bapak, dan keluarga untuk mempercepat proses ini. Kami berharap yang empat ini segera teridentifikasi sehingga semuanya selesai dengan baik," ucapnya.

Sejauh ini, duka mendalam menyelimuti korps baret ungu tersebut. Dari total 23 prajurit yang gugur, 19 di antaranya telah dipulangkan dan dimakamkan secara militer di kampung halaman masing-masing. Kini, fokus utama tertuju pada empat peti jenazah terakhir yang masih menanti kepastian nama di atas nisan mereka. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.