Perintah Pangdam Jaya: Tak Ada Senjata Api, Pengamanan Unjuk Rasa Harus Persuasif dan Humanis

Jakarta, IDM - Pangdam Jaya Mayjen TNI Untung Budhiarto menekankan agar pengamanan unjuk rasa dilakukan secara persuasif dan humanis. Hal ini disampaikannya dihadapan 1420 prajurit Kodam Jaya BKO Polda Metro Jaya saat memimpin apel kesiapan pengamanan unjuk rasa di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Selasa (13/9).
"Harus melaksanakan tugas pengamanan ini dengan baik, humanis dan persuasif, serta menjunjung tinggi hak asasi demokrasi dalam menyampaikan pendapat," kata Untung.
Berikutnya Untung juga meminta kepada para komandan satuan dan seluruh personel untuk mempedomani standar operasional dan ketentuan penanganan unjuk rasa serta memastikan di lapangan seluruh personel tidak ada yang membawa senjata api dan senjata tajam dalam pengamanan aksi unjuk rasa elemen masyarakat agar berjalan dengan baik dan benar.
"Laksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, hormati para pengguna jalan serta tunjukkan kedisiplinan prajurit kepada masyarakat, terima kasih kalian sudah melaksanakan tugas dengan baik beberapa hari lalu," tegas Untung. (rr)
Hankam

Penertiban Bendera di Aceh Tewaskan Warga, TNI AD: Kami Pakai Peluru Hampa dan Karet Peluru Hampa dan Karet
TNI AD menyatakan tindakan pengamanan saat penertiban Bendera Bulan Bintang di Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, menggunakan peluru hampa dan karet setelah massa anarkis. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu warga tewas serta belasan warga dan prajurit luka-luka.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































