KRI Tongkol-813 Evakuasi Prajurit Angkatan Laut Australia di Benoa

Jakarta, IDM - KRI Tongkol-813 melakukan evakuasi medis salah satu prajurit kapal Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy) HMAS Merville Lt Cdr. Mohommed Zeed, yang terkena serangan jantung di Perairan Bali, Kamis (14/7).
Dikutip dari keterangan Dispenal, Jumat (15/7), proses evakuasi ini setelah Pangkoarmada II Laksamana Muda TNI T.S.N.B. Hutabarat, mendapatkan informasi dari Asops KSAL Laksamana Muda TNI Dadi Hartanto, terkait permintaan bantuan dari Atase Laut Australia Captain Rodney Griffiths, mengevakuasi Zeed yang sedang berlayar di selatan Benoa, menuju Bali.

Setelah memberikan informasi tersebut, Dadi selanjutnya berkoordinasi ke Danguskamla Koarmada II untuk menggerakkan KRI Tongkol-813 dari Mataram menuju perairan selatan Bali dan Lanal Denpasar untuk menyiapkan fasilitas sandar dan bantuan medis di darat.
Kemudian, KRI Tongkol-813 menjalin komunikasi dengan HMAS Merville, menurunkan sekoci untuk menggeser Zeed yang sakit dan satu dokter kapal, Lt CDR Marc Dantol menuju ke Benoa. Saat ini, dua warga Australia tersebut sudah melaksanakan debarkasi ke Lanal Denpasar didampingi oleh Atase Laut Australia. (at)
Hankam

Penertiban Bendera di Aceh Tewaskan Warga, TNI AD: Kami Pakai Peluru Hampa dan Karet Peluru Hampa dan Karet
TNI AD menyatakan tindakan pengamanan saat penertiban Bendera Bulan Bintang di Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, menggunakan peluru hampa dan karet setelah massa anarkis. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu warga tewas serta belasan warga dan prajurit luka-luka.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































