Keren, Latihan Standardisasi Prajurit Kostrad, Tempuh 160 KM dalam 5 Hari

Cianjur, IDM – Sebanyak 500 prajurit mengikuti latihan standardisasi prajurit Kostrad CAKRA XIV. Mereka melaksanakan Ketahanan Mars (Hanmars) sejauh 160 KM yang ditempuh dalam 5 hari.
Dilansir keterangan resminya Penkostrad, Jumat, (3/3) disebutkan latihan ini adalah lanjutan dalam rangka perpindahan tahapan latihan dari Hutan Gunung ke Rawa Laut.

"Star dimulai pada hari Senin, 27 Februari 2023 dari titik start Cikalong Wetan, Cianjur dan mencapai garis finish di Pantai Palangpang pada Jumat, 3 Maret 2023. Mereka menempuh menempuh 32 KM perhari," tulis keterangan Penkostrad.
Baca Juga: Senapan dan Ranjau Langka Sisa Perang Dunia Ke II yang Ditemukan di Indonesia
Dijelaskan pula medan yang dilalui pun beragam mulai dari turunan terjal dan tanjakan curam dan ditambah lagi, rute yang dilewati dalam pelaksanaan Hanmars tidak selalu berupa jalan raya yang mulus tetapi juga berupa Jalan perkampungan dan perbukitan yang masih berupa batuan, serta cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh pelaku latihan.

"Mereka menggunakan perlengkapan lengkap helm, ransel, dan senjata," jelas keterangan Penkostrad. (rr)
Hankam

KSAD dan Pangkostrad Sambangi Mabes Polri, Ada Apa?
KSAD Jenderal TNI Tandyo Budi Revita didampingi Pangkostrad Letjen TNI Iwan Setiawan menyambangi Mabes Polri untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat koordinasi TNI-Polri dalam menjaga stabilitas keamanan nasional.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































