Faktor Communality dan Offset jadi Alasan Kemhan Beli Helikopter Mi-35M

Jakarta, IDM – Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kementerian Pertahananan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengungkapkan alasan pembelian Helikopter Mi-35M. Menurutnya pengadaan ini merupakan kelanjutan dari Rencana Strategis (Renstra) periode sebelumnya.
"Terkait keberadaan Helikopter Mi-35M TNI AD (Puspenerbad), dapat kami sampaikan bahwa helikopter tersebut merupakan bagian dari pengadaan resmi Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan bukan bersifat hibah. Pengadaan ini merupakan kelanjutan dari Rencana Strategis (Renstra) periode sebelumnya," kata Rico kepada Indonesia Defense Magazine, Minggu (20/9).
Baca Juga: Ikut Perbaiki ITS Giuseppe Garibaldi, PT PAL: Bagian dari Pembelajaran Rancang Kapal Induk
Lebih lanjut ia menjelaskan langkah ini diambil dengan mempertimbangkan faktor communality (keselarasan operasional), mengingat TNI AD sebelumnya telah mengoperasikan unit Mi-35.
"Selain itu, paket pengadaan ini juga mencakup skema offset yang ditujukan untuk mendukung pemanfaatan dan pengembangan Industri Pertahanan Dalam Negeri (Indhan DN)," jelas Rico.
Untuk diketahui, Indonesia kedatangan dua helikopter serang Mi-35M buatan Rusia. Helikopter ini masuk ke dalam jajaran penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad).
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat acara TNI Fair 2026 di Lapangan Silang Monas, Sabtu (19/9), mengatakan helikopter ini memenuhi kebutuhan TNI AD akan helikopter angkut atau kamov. Menurutnya Helikopter Mi-35M adalah heli yang bisa membawa beban.
Baca Juga: Respons TNI Soal Sertifikasi HAM untuk Promosi Jabatan
Maruli menjelaskan fungsi operasional Helikopter ini nantinya ditujukan untuk mendukung pergerakan personel, pasokan logistik, serta bantuan kemanusiaan bagi masyarakat di daerah terisolir, contohnya di Pegunungan Papua yang memiliki ketinggian di atas 2.000 mdpl.
“Sekarang kita punya heli yang bisa mengangkat beban secara spek bisa sampai 5 ton. Tapi kalau ketinggian, mungkin kita amannya 3 ton. Sehingga ini juga bisa sekalian mendukung personel kita, juga bisa membantu masyarakat. Selama ini masyarakat di pegunungan di Papua ini bantuan-bantuannya sulit, ya. Karena keterbatasan penerbangan. Nanti ke depan ini, operasional bulan 10 untuk membantu masyarakat,” kata Maruli.
Hankam

TNI AD Siagakan Pasukan di Jakarta untuk Tangkal Ancaman yang Ganggu Stabilitas Negara
TNI Angkatan Darat memastikan pengerahan pasukan di Jakarta adalah bagian dari kesiapsiagaan menghadapi ancaman yang ganggu stabilitas negara. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono kepada wartawan di Jakarta, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































