Kisah Dibalik Nama Leo Wattimena, Jagoan di Udara Kebanggaan TNI AU

BACA JUGA

ads-custom-1

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) memiliki banyak penerbang tempur yang andal dan pemberani, satu di antaranya adalah Leo Wattimena. Pria kelahiran Kalimantan Barat, 3 Juli 1927 ini dikenal sebagai ‘jagoan’ di udara. Kelihaian Leo dalam mengawaki pesawat tempur memang sudah diakui dan teruji.

Sederet gelar melekat pada sosok Leo Wattimena. Mulai dari good pilot, G-maniac, sampai dianggap orang yang paling mengenal pesawat tempur P-51 Mustang. Bagi Leo, pesawat tempur Mustang lebih dari sekadar mainan kesayangan. Ia bahkan mengasosiasikan pesawat tempur asal Amerika Serikat (AS) tersebut sebagai ikatan jiwa dan “istri pertama”.

Sebagai seorang penerbang, Leo memiliki sejumlah kebiasaan yang membuatnya mendapat julukan “penerbang gila”. Bukan tanpa alasan, dikutip dari Museum Karbol AAU, salah satu kebiasaan ‘gila’ Leo adalah kegemarannya melakukan manuver putar balik 360 derajat. Aksi tersebut bahkan dilakukan ketika pesawat baru saja lepas landas. Tidak sampai disitu, Leo kerap menerbangkan pesawatnya melintasi kolong Jembatan Ampera di Palembang.

Kisah hidup Leo tidak langsung mengantarkannya menjadi seorang penerbang tempur. Sebelum menjajal kokpit pesawat, Leo terlebih dahulu bekerja di jawatan kereta api pada masa revolusi. Hingga akhirnya pada tahun 1950, ia mengikuti pendidikan sekolah penerbang di Amerika Serikat dan menjadi satu dari 60 calon penerbang serta navigator Indonesia yang memiliki kesempatan belajar di Academy of Aeronautics TALOA (Trans Ocean Airline Oakland Airport) California.

Karier Leo kemudian melesat bagai pesawat tempur yang diawakinya. Ia pernah mengemban amanah sebagai komandan skadron pesawat pancar gas hingga menjadi jenderal bintang satu pada usia relatif muda yakni 35 tahun di tahun 1962.

Di antara banyak kisah perjuangan Leo sebagai prajurit TNI AU, sejarah mencatat ia pernah memimpin komando grup pemburu P-51 dalam sebuah operasi dengan sandi “Nunusaku”. Dengan melancarkan taktik gerilya, Leo berhasil mengancurkan pesawat-pesawat Permesta, salah satunya adalah pesawat bomber B-26 Invader.

Kesuksesan Leo tidak berhenti disitu. Puncak kariernya sebagai penerbang terjadi saat ia dipercaya menjadi wakil panglima II Komando Mandala dalam operasi pembebasan Irian Barat di tahun 1962.

Baca: Mengenal “Biskuit Sardjito” Ransum TNI di Zaman Kemerdekaan

Selain sosok “penerbang gila”, Leo juga dikenang oleh para prajuritnya sebagai pemimpin yang egaliter, di mana ia akan selalu memberikan perhatian kepada para prajuritnya terlebih dahulu. Sebagai contoh, ia sempat melakukan protes saat mengetahui anak buahnya hanya diberi makan tempe. Padahal mereka harus berjuang di hutan belantara saat operasi pembebasan Irian Barat. Protes itu dilayangkan pasalnya ia merasa para prajurit harus mendapatkan bekal makanan yang tepat agar siap bertugas. Terlebih dalam perjuangan ini, nyawa menjadi taruhannya.

Sebagai salah satu prajurit dan penerbang kebanggaan TNI AU, nama Leo Wattimena kini diabadikan menjadi nama pangkalan udara yang berlokasi di Morotai. (yas)

ads-custom-2

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

BERITA TERBARU

ads-custom-5

POPULER