Rabu, 21 Februari 2024

Cerita Lettu Kusmari dan Aipda Sumarno Jadi Korban Penyiksaan KNIL di Penjara Pulau Wundi

BACA JUGA

Jakarta, IDM – Pulau Wundi bagian gugusan Kepulauan Padaido adalah surga tersembunyi di Kabupaten Biak Numfor. Keindahan alam pesisir dan bawah lautnya sungguh menakjubkan. Namun tahukah bahwa pulau ini menyisakan cerita kelam masa lalu, di mana para tawanan perang Indonesia disiksa dengan kejam oleh KNIL Belanda di penjara pulau ini.

Dilansir dari majalahpandu, Minggu, (22/10) adalah Letnan satu (Lettu) Kusmari prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI yang saat itu terlibat dalam operasi Trikora, ia pernah merasakan siksa kelam di pulau ini. Kusmari masih ingat jelas bagaimana perlakuan tentara KNIL saat dirinya menjadi tawanan di penjara pulau Wundi, Biak, Papua.

“Penyiksaan pun masih saya terima di penjara pulau Wundi, salah satunya saya disuruh lepas sepatu, saat ketemu batu karang disuruh loncat-loncat. Akibatnya kaki saya luka-luka dan berdarah itu pun harus tetap berjalan di sepanjang pantai berpasir,” ujarnya dalam buku “Heroisme PGT dalam Operasi Serigala,” yang disusun tim Subdisjarah Dispenau.

Baca Juga: Rekam Jejak Perjuangan Supriyadi dan Pemberontakan PETA di Blitar

Kusmari tidak sendirian, saat itu ada juga tawanan Indonesia lainnya dari Pasukan Gerilya (PG) 100 dan PG 300. Mereka adalah bagian dari pasukan APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) termasuk dari Detasemen Pelopor, Brimob dan sukarelawan.

Aipda Sumarno
Aipda Sumarno dan 20 orang lainnya disiksa dipenjara Pulau Wundi. (Foto: Dok. Buku Amji Attak)

“Kami dijadikan mainan buat KNIL, kami disuruh mandi sesudah itu dijemur, habis itu direndam lagi berjam-jam. Ada juga disiksa disuruh memotong pohon yang besar tapi hanya menggunakan pisau dapur. Yang paling parah nasibnya adalah Satiran, seorang prajurit Medan. KNIL menyuruhnya menaiki pohon tinggi dan disuruh melompat. Kaki Satiran patah,” cerita Kusmari.

Waktu berjalan, keberuntungan menghampiri Kusmari, dia dijadikan kepala dapur yang membuat dia banyak mengenal prajurit Indo Belanda.

Baca Juga: The Sin Nio, Pejuang Perempuan Indonesia yang Hidup Sulit Hingga Akhir Hayat

“Dari sini saya tahu, banyak dari mereka yang tidak tahu kalau Indonesia itu luas, mereka kira Indonesia itu hanya Irian. Saya pun menjelaskan ke mereka,” kata Kusmari.

pengumpulan senjata
Beberapa kegiatan pengumpulan senjata di penjara Pulau Wundi. (Foto: Dok. Buku Amji Attak)

Jika Kusmari berakhir menjadi kepala dapur, beda cerita yang dialami Aipda Sumarno dari Detasemen Pelopor, Brimob. Dalam buku “Peranan Polri dalam Trikora & Dwikora” karangan Brigjen Pol (P) Jusuf Chuseinsaputra dikisahkan, Sumarno bersama 20 orang lainnya juga mengalami siksaan di penjara Pulau Wundi.

“Turun dari kapal, tahanan disambut dengan tendangan sepatu lars dan pukulan popor senapan, disertai sumpah serapah yang Sumarno tak mengerti maknanya,” tulis Jusuf.

Baca Juga: Mengenal Senapan Lee-Enfield No.4 Mk 1, Senjata Runduk Era Perang Dunia II

Menurut Sumarno, setiap hari ada saja tambahan tawanan yang ditangkap. Mereka selalu menceritakan keganasan alam rimba Irian dan kesulitan mendapatkan bahan untuk diolah jadi makanan.

“Selama dalam tahanan, dilakukan interogasi perorangan secara berulang-ulang. Pertanyaan seputar kegiatan militer. Dan saat interogasi ini tak luput dari penyiksaan. Setelah keluar dari kamar interogasi, banyak anggota yang menderita kesakitan parah,” kisah Sumarno.

Setelah ditandatangani perjanjian perdamaian antara Indonesia dengan Belanda dan diberlakukan pemerintah UNTEA di Irian Barat, para sukarelawan dan pasukan Indonesia pun dibebaskan. (rr)

BERITA TERBARU

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

POPULER