“Presidensi G20 Indonesia sebagai Peran Strategis dalam Mewujudkan Upaya Perdamaian Rusia-Ukraina”

BACA JUGA

IDM – Indonesia dipercaya untuk memegang tampuk Presidensi G20 merupakan nilai tambah tersendiri dalam hubungan antarnegara, tentunya momentum ini dapat digunakan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Indonesia dalam mengambil peran strategis mendeeskalasi konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina, meskipun saat ini Pemerintah Indonesia telah mengecam serangan Rusia ke Ukraina namun secara konkrit peran Indonesia sangat diharapkan, khususnya oleh negara anggota G20. Terlepas dari politik Indonesia adalah bebas-aktif dan non blok namun bukan berati peran strategis Indonesia dalam G20 tidak dapat dimanfaatkan guna mewujudkan upaya perdamaian Rusia-Ukraina.

Dalam G20 2022 tengah diangkat tema besar yaitu “Recover Together, Recover Stronger” namun tidak dapat dipungkiri bahwa konflik Rusia-Ukraina akan berdampak dalam upaya pemulihan bersama tersebut. Sebuah pemulihan ekonomi global tidak dapat terlepas dari risiko geopolitik yang sedang terjadi. Peningkatan tensi geopolitik akibat serangan Rusia ke Ukraina telah memicu berbagai sanksi termasuk sanksi ekonomi yang pasti cepat atau lambat akan berdampak kepada ekonomi global, sebagaimana diketahui Amerika Serikat dan Eropa merupakan negara yang telah menerapkan sanksi ekonomi terhadap Rusia.

Harus dapat dipahami bahwa situasi ketegangan yang terjadi disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan dari masing-masing pihak baik AS, NATO, Rusia, dan Ukraina. Dalam hal ini Indonesia sebagai pemegang Presidensi G20 bisa mengambil peran menjadi jembatan untuk mendorong perbedaaan kepentingan ini dapat diselesaikan setidaknya melalui cara-cara kemanusiaan, sebagaimana yang selalu dikedepankan dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia yaitu melalui sebuah perundingan, sehingga konflik ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakkan yang berdampak pada warga sipil.

Dapat dikatakan saat ini Indonesia memiliki tantangan tersendiri sebagai pemegang Presidensi G20, karena tentu perihal konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina akan menjadi agenda utama saat pembahasan terkait pemulihan perekonomian global. Sebagai kelompok negara Asia Indonesia seharusnya dapat menjawab tantangan ini dengan membangun kerjasama dengan negara-negara Asia anggota G20 untuk mendorong negara Eropa yang memiliki berbagai kepentingan dalam konflik Rusia-Ukraina agar mengedepankan upaya jalan damai melalui perundingan dan secepatnya melakukan gencatan senjata.

Apabila Indonesia tidak dengan segera mengambil peran strategis ini tentu negara Asia anggota G20 akan terpengaruh berbagai kepentingan AS, NATO, Rusia dan Ukraina, mengingat saat ini konflik tersebut telah menjadi konflik bersenjata, bahkan Rusia sempat menggunakan deterrence effect dengan mengumumkan bahwa senjata nuklirnya berada dalam kondisi siaga tertinggi, hal ini seharusnya tidak perlu terjadi di Era Abad-21.

Mengutip pernyataan Prof Dr. Hikmahanto Juwana dalam wawancaranya dengan Kompas TV (26/02) bahwa Menteri Luar Negeri R.I sudah saatnya melakukan pembicaraan-pembicaraan dengan negara di Asia, Afrika, Eropa Timur, hingga Amerika Latin mengingat bila saling serang terus terjadi di Ukraina tentu akan menjadi cikal bakal pecahnya Perang Dunia ke-III. Jika langkah ini mampu diambil oleh Indonesia sebagai negara yang dipercaya memegang Presidensi G20 2022 maka Abad Asia sebagai penggerak ekonomi dunia semakin terwujud dan tentu tema besar G20 2022 “Recover Together, Recover Stronger” hanya bisa tercipta jika perdamaian menjadi satu-satunya jalan dalam menyelesaikan konflik (SP). (Gin)

Oleh Sifra Panggabean S.H., M.Si (Han)., C.L.A
General Secretary of Indonesia Peace and Resolution Association (IPCRA) &
Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pertahanan R.I

EDISI TERBARU

sidebar

BERITA TERBARU

POPULER