Selasa, 27 Februari 2024

Rekam Jejak Perjuangan Supriyadi dan Pemberontakan PETA di Blitar

BACA JUGA

Jakarta, IDM – Sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia tidak terlepas dari sosok Supriyadi. Ia menjadi sosok muda dan gigih yang pernah memimpin pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar pada 14 Februari 1945.

Saat itu, pemberontakan PETA menjadi salah satu bentuk perlawanan terbesar terhadap penjajahan Jepang di Indonesia sekaligus tonggak semangat para pejuang di berbagai daerah untuk melawan penjajah.

Lantas, siapakah Supriyadi dan bagaimana rekam jejak perjuangannya?

Melansir Kompas, Kamis (17/8), Supriyadi lahir pada 13 April 1923 di Trenggalek, Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga bangsawan, di mana Ayahnya merupakan Bupati Blitar, Raden Darmadi.

Baca Juga: Mengenal “Si Gajah” Ambulans Jadul Saksi Sejarah Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

Pada akhir tahun 1943, Supriyadi memutuskan untuk bergabung dengan PETA. Ia kemudian menjalani pelatihan di sekolah perwira PETA di Tangerang dan mendapat pangkat komandan peleton (shodancho).

Setahun berselang, tepatnya pada awal tahun 1944, Supriyadi kemudian dikirim ke Blitar, Jawa Timur. Di sana, ia mendapat tugas untuk memimpin pasukan PETA Batalyon Blitar yang berada di bawah kendali pemerintah militer Jepang.

Salah satu tugas tentara PETA saat itu adalah mengawasi kerja paksa atau romusha , di mana pekerjanya merupakan rakyat Indonesia. Tentara PETA menyaksikan langsung bagaimana rakyat Indonesia disiksa dan diperas oleh Jepang saat itu. Rakyat Indonesia pun banyak yang mengalami kelaparan.

Baca Juga: Mengenal Rumah Singgah Jenderal Soedirman di Desa Bodag, Trenggalek

Kesengsaraan rakyat Indonesia dan kekejian Jepang lah yang pada akhirnya membuat hati Supriyadi beserta rekan-rekan seperjuangannya tergerak untuk melancarkan pemberontakan PETA di Blitar pada 14 Februari 1945.

Perjuangan tentara PETA untuk melawan Jepang sebenarnya telah direncanakan sejak September 1944. Namun pada akhirnya mereka memilih tanggal 14 Februari 1945 sebagai hari yang tepat untuk melancarkan serangan lantaran saat itu terdapat agenda pertemuan seluruh komandan dan anggota PETA di Blitar.

Harapannya, mereka bisa mendapat lebih banyak pasukan untuk melancarkan serangan terhadap Jepang. Sayangnya, Jepang berhasil meredakan pemberontakan tersebut dengan mengirim pasukan militer mereka.

Tentara PETA yang melakukan pemberontakan kalah telak dari sisi jumlah dengan pasukan Jepang. Kekuatan Jepang pun sulit ditandingi lantaran mereka juga dipersenjatai dengan tank dan pesawat udara.

Baca Juga: The Sin Nio, Pejuang Perempuan Indonesia yang Hidup Sulit Hingga Akhir Hayat

Para tentara PETA yang dipimpin oleh Supriyadi pun pada akhirnya ada yang ditangkap dan diajukan ke pengadilan militer Jepang. Namun, Supriyadi konon dikisahkan menjadi salah satu orang yang berhasil kabur dari Jepang.

Setelah Indonesia Merdeka, Supriyadi ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Presidensial pada 6 Oktober 1945. Akan tetapi, kariernya sebagai menteri tidak berlangsung lama.

Posisi tersebut pada akhirnya harus diberikan kepada Imam Muhammad Suliyoadikusumo pada 20 Oktober 1945. Alasannya, Supriyadi dinyatakan hilang. Sejak saat itu, muncul sejumlah asumsi mengenai nasibnya. Tidak ada yang tahu secara pasti di mana keberadaannya.

Atas jasa-jasanya bagi Indonesia, Supriyadi kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor 063/Tk/Tahun 1975 tanggal 9 Agustus 1975. (yas)

BERITA TERBARU

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

POPULER