Rabu, 28 Februari 2024

The Sin Nio, Pejuang Perempuan Indonesia yang Hidup Sulit Hingga Akhir Hayat

BACA JUGA

Jakarta, IDM – The Sin Nio (dibaca Teh Sin Nyo) merupakan perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia asal Wonosobo yang turut berjuang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, ia mengubah namanya menjadi Mochamad Moeksin demi dapat gabung bergerilya dan tidak dipandang sebelah mata ketika melawan Belanda dengan parang dan bambu runcing.

Kala itu The Sin Nio yang menyamar jadi Moeksin, bergabung dengan pejuang lainnya dalam kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18 di bawah komando Brigjen Sukarno. Menurut artikel Azmi Abubakar, pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, keberanian wanita itu sangat luar biasa ketika bergerilya. Bagaimana tidak, sedari awal ia hanya menggunakan senjata tradisional dan baru memiliki senjata api jenis Lee-Enfield (LE) setelah berhasil merampasnya dari pasukan Belanda.

Meski turut berjuang dalam melawan penjajah, The Sin Nyo tidak semata-mata langsung diakui sebagai Pahlawan Nasional. Pada 1976, ia baru memperoleh pengakuan sebagai pejuang yang turut aktif mempertahankan kemerdekaan Indonesia, berdasarkan surat pengakuan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta.

Baca Juga: Sejarah Monumen Mandala dari Bekas Sekolah Guru dan Hoofdkwartier van de Koninklijke

Kendati begitu, surat pengakuan sebagai veteran tidak diiringi dengan hak pensiun. Ia baru mendapat uang pensiun sebesar Rp28.000/bulan baru cair beberapa tahun kemudian.

Rosalia Sulistiawati, salah satu cucu The Sin Nyo, bercerita neneknya menghabiskan waktu tua hidup di kontrakan kecil berukuran 2×3. Menurut Rosalia, neneknya kesulitan memperoleh pengakuan sebagai pejuang karena statusnya sebagai wanita sekaligus keturunan Tionghoa.

“Ada kebanggaan, tapi sedih saya punya Oma sampai harus seperti ini. Yang ternyata hanya ingin pengakuan dari negara yang kayaknya susah, karena keturunan Tionghoa. Jadi mungkin beda perlakuan,” kata Rosalia.

Baca Juga: Mengenal Rumah Singgah Jenderal Soedirman di Desa Bodag, Trenggalek

Sisa hidup The Sin Nio dilanda kesulitan hingga akhir hayatnya yang tutup usia pada 1985, meskipun ia telah berjuang melawan penjajah Belanda.

Sampai akhirnya pada November 2022 silam, Komnas Perempuan mendorong nama The Sin Nio sebagai pahlawan nasional dan ingin merubah persepsi bahwa “sejarah tentang kepahlawanan hanya milik laki-laki”.

“Kita mengapresiasi apa yang beliau upayakan sebagai sebuah daya juang, mencintai negerinya,” kata anggota Komnas Perempuan Dewi Kanti.

Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, sampai 2022, tokoh yang memperoleh penghargaan pahlawan nasional berjumlah 200 orang dimana hanya ada 15 pahlawan perempuan

Baca Juga: Mengenal “Si Gajah” Ambulans Jadul Saksi Sejarah Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

“Keteladanan untuk diwariskan untuk bangsa ini bukan sekadar oleh laki-laki atau hanya sekadar pergerakan perjuangan, pergolakan fisik, tapi kami memaknai peran positif para perempuan sebagai pelopor perubahan,” jelas Dewi.

Namun, Dewi mengakui adanya polemik klasik terkait The Sin Nio di mata publik. Pandangan tentang kelayakan pribumi atau nonpribumi mendapat gelar pahlawan nasional itu memang masih menjadi masalah yang melekat di Indonesia.

“Itu jadi isu sensitif, tapi bagi kami yang terpenting adalah pribumi atau nonpribumi yang diwacanakan publik, kami memaknai bahwa semua warga negara Indonesia yang hidup berpuluh tahun di Indonesia ini juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam bernegara sesuai konstitusi,” imbuhnya. (BBC/bp)

BERITA TERBARU

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

POPULER