Serka Bayani : Bapak, Jangankan Kelly Kwalik, Monyet pun Tidak Mau Tinggal di Situ

706
Prabowo Subianto saat Operasi Mapenduma di Papua pada 1996. Salah satu prajuritnya ketika itu, Serka Bayani, anggota Kopassus yang merupakan putra asli Papua.

Sepanjang karier militer Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto, Operasi Mapenduma yang terjadi pada 1996 nampaknya memiliki arti tersendiri baginya. Prabowo Subianto yang saat itu menjabat sebagai Komandan Kopassus bersama pasukannya harus menyelamatkan peneliti Ekspedisi Lorentz ’95 yang disandera oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik di Desa Mapenduma, Jayawijaya, Papua.

Saat itu, Prabowo menerjunkan para prajurit Kopassus untuk membantunya menyelesaikan misi pembebasan sandera ini. Di antara para prajurit yang terlibat dalam misi tersebut, satu nama cukup menjadi perhatian yaitu Sersan Kepala (Serka) Bayani.

Prabowo menyebut Serka Bayani sebagai seorang putra daerah Papua yang terkenal di Kopassus. “Orangnya tenang, berani, memiliki kemampuan luar biasa dalam menembak, dan memiliki kemampuan membaca jejak,” kenang Prabowo Subianto dalam bukunya yang berjudul, “Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto” (hal 203).

Prabowo Subianto yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) RI bahkan memuji kelihaian Bayani yang mampu menginflitrasi ke camp musuh. “Karena musuh mengira dia bagian dari mereka, beliau berhasil menewaskan beberapa musuh dan membuat tiga sampai empat pucuk senjata dalam sekali operasi. Secara keseluruhan beliau berhasil merebut lebih dari 100 pucuk senjata dari tangan musuh,” ungkap Prabowo (hal 203).

Dok. Buku Kepemimpinan Militer Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto

Sebagai seorang pemimpin operasi penyelamatan saat itu, Prabowo memang harus bijak dan tepat dalam mengambil setiap keputusan, salah satunya saat ia harus menentukan opsi titik penyerangan. Sebelum melakukan operasi, Prabowo mendapat laporan dari peninjau yang berasal dari Inggris bahwa mereka telah mendapatkan titik koordinat exact location sasaran. “Namun, titik tersebut berada di luar enam sasaran yang diberikan oleh tim intelijen saya,” ujar Prabowo (hal 206).

Alih-alih langsung mengambil keputusan pasca mendapat laporan dari pihak Inggris, Prabowo justru menilai bahwa ia harus bertanya kepada orang yang berpengalaman dan menguasai wilayah tersebut. Prabowo memutuskan untuk memanggil Bayani dan meminta tanggapannya atas informasi yang diberikan oleh pakar dari Inggris tersebut.

“Bayani menepisnya. Dia tetap menampik sekalipun setelah saya katakan kepadanya bahwa pakar dari Inggris itu menggunakan alat teknologi untuk menentukan exact location tersebut,” tutur Prabowo.

Prabowo ingat betul penjelasan yang disampaikan Bayani kepadanya meskipun sudah sekian puluh tahun. “Bapak, jangankan Kelly Kwalik. Monyet pun tidak mau tinggal di situ. Tidak ada air di situ. Bapak, bagaimana sekian puluh orang berada di atas tanpa air,” jelas Bayani kepada Prabowo dengan logas khas Papuanya (hal 207).

Dalam ingatannya, Prabowo menyebut apa yang disampaikan oleh Bayani merupakan kecerdasan dari seorang pribumi, putra daerah. “Dia lebih tahu kondisi setempat, dibandingkan dengan orang asing yang datang dari jauh walaupun membawa alat yang canggih,” ujar Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto (hal 207).

Mendengar penjelasan Bayani, Prabowo akhirnya mengambil keputusan untuk menyerang enam titik sesuai hasil kajian tim intelijennya. Akhirnya Prabowo dan tim Kopassus pun berhasil membebaskan para sandera. Keberhasilan Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma ini telah mengangkat wibawa TNI, pemerintah pusat, dan Republik Indonesia. (Yas/man)