Kisah Kolonel Yang Pernah Tempeleng Prabowo Subianto

659
Buku Kepemimpinan Militer Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto

“Buku ini saya persembahkan untuk generasi muda. Semoga dapat bermanfaat. Tanah Air kita menanti Darma Baktimu”

Kalimat tersebut menjadi pembuka pada buku Kepemimpinan Militer yang ditulis oleh Prabowo Subianto. Buku yang terbit pada Juni 2021 lalu menceritakan catatan  dan pengalaman seorang Prabowo sejak dirinya masih aktif sebagai seorang prajurit, sampai purna tugas dari TNI. Di dalam buku ini, Prabowo mengisahkan mengenai sikap-sikap keteladanan para pimpinannya, para pelatihnya, para bintara yang membentuk dan membantunya, juga mereka yang berjuang bersamanya. Salah satu diantaranya, ternyata terdapat sosok yang pernah ‘menempeleng’ mantan Danjen Kopassus tersebut. Dialah Kolonel Mar TNI (Purn.) Azwar Syam.

Prabowo pertama kali bertemu dan mengenal sosok Azwar Syam saat menjalani pendidikan sebagai taruna di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian umum dan darat di Magelang pada tahun 1970. Saat itu, Prabowo muda tergabung dalam Kompi 2 Batalyon C4. Dalam ingatannya, Prabowo menggambarkan Azwar Syam sebagai sosok yang tegas dan mempunyai kerapian dalam berpakaian.

“Ada beberapa hal yang saya pelajari dari sosok Pak Azwar. Pertama terkait kerapian. Dari beliau saya belajar bahwa komandan pasukan di lapangan tidak perlu memakai pakaian baru. Tapi yang penting harus rapi. Pakaian ini malah menjadi kebanggaan. Simbol dari perjuangan,” tulis Prabowo dalam bukunya tersebut (h.69).

Selain kerapian, Azwar Syam juga dinilai memiliki ketegasan terhadap anak buahnya. Sosok ini malah pernah menempeleng Prabowo. Perlakuan ini diterima Prabowo pada masa perpeloncoan. Saat itu, Prabowo yang kepalanya sudah digunduli diberikan seniornya helm baja tanpa alas. Para senior kemudian berbagi tips untuk menyiasati agar kepala tidak sakit saat memakai helm tersebut, yaitu melapisi kepala dengan kain bahan. Selain itu, senior lain juga memberikan setengah tangkap gula jawa kepadanya sambil berbisik, senior tersebut menjelaskan memakan gula jawa dapat membuat tubuh prima, tidak mudah lelah. Dengan polosnya, sebagai taruna junior, gula jawa tersebut diterima Prabowo dan menaruhnya di kantong celana.

Pada saat apel digelar, Letnan KKO Azwar Syam memeriksa Prabowo dan taruna lainnya satu persatu. Saat menghampiri dirinya, Azwar Syam langsung memegang kantong Prabowo dan bertanya apa yang ada di dalamnya.

“Lantas, beliau mengecek dan mengambil gula jawa dari kantong celana saya, dan tanpa aba-aba, beliau langsung menempeleng saya. Jadi saya mendapat “kehormatan” sebagai taruna pertama yang ditempeleng di Kompi 2 C4,” kisah Prabowo (h.72).

Namun, Prabowo tidak membenci Azwar Syam yang telah menempelengnya di depan taruna-taruna lain. Bahkan, timbul rasa hormat dan sayang kepada beliau. Karena menurut Prabowo, selain orangnya tegas, Azwar Syam juga sangat disiplin dan sangat peduli terhadap anak buahnya.

Prabowo merasa jika sosok Danki Letnan Azwar Syam ini banyak memengaruhinya. Bahwa seorang komandan harus selalu tegas, harus correct, fisik kuat, dan mumpuni serta tidak banyak bicara. (nhn)