Rekam Jejak Jenderal Besar TNI (Purn) A.H Nasution di Dunia Militer Hingga Menulis Buku

2067
A.H Nasution dalam buku Jalesveva Jayamahe, 1960

Jakarta, IDM – Gerakan 30 September adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam pada tanggal 30 September sampai awal bulan selanjutnya (1 Oktober) tahun 1965 ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang yang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta yang hampir sekaligus.

Pada malam Nahas tersebut, AH Nasution tengah menikmati peraduan malam dengan beristirahat. Tak ada yang menyangka, bahwa pada hari itu bakal ada sebuah kejadian bersejarah yang akan terus dikenang oleh generasi muda bangsa ini. Sebuah penculikan tertarget yang direncanakan dengan sangat rapi oleh barisan komunis Indonesia. Salah satunya adalah Jenderal AH Nasution yang ada dalam daftar mereka dari ketujuh Jenderal.

“Ketika pintu dibuka, anggota penculik segera melepaskan tembakan ke arah Jenderal TNI A.H. Nasution,” tulis penyusun buku Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (1994:96) yang diterbitkan Sekretaris Negara.

Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Nasution yang kakinya terluka sedang membahas situasi di markas Kostrad pada malam tanggal 1 Oktober 1965 / Wikipedia

Kisah A.H. Nasution

Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tanggal 3 Desember 1918, dari pasangan H. Abdul Halim Nasution dan Zahara Lubis. Selain dikenal sebagai petani yang cukup sukses, sang ayah juga dikenal sebagai anggota pergerakan Sarekat Islam di Kotanopan, Tapanuli Selatan.

Meski lahir di Sumatera Utara, Nasution menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertamanya di Hollandsch Inlandsche School (HIS), Yogyakarta dan lulus pada 1932. Nasution melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah atau Europeesche Lagere School (ELS) dan lulus pada 1938.

Pendidikan menengah atas Nasution kemudian dilanjutkan di Algemeene Middelbare School (AMS) Bagian B di Jakarta dan lulus pada tahun 1938. Setelah menyelesaikan pendidikannya inilah, Nasution kemudian kembali pulang ke Sumatera dan menjadi guru selama dua tahun di Palembang dan Bengkulu.

Karena tak betah menjadi guru di tengah gejolak pekik kemerdekaan, Nasution kemudian memilih untuk ikut bergerak melawan penjajahan dan bergabung dengan Akademi Militer di Bandung. Meski demikian, pendidikannya sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang.

Kembali ke Militer

Tahun 1945, setelah kekalahan Jepang di Perang Pasifik, dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Nasution kembali bergabung bersama dengan para bekas tentara Pejuang Tanah Air (PETA) yang kemudian mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal TNI.

Karier militer Nasution kemudian menanjak. Di bulan Maret tahun 1946, dia ditunjuk sebagai Panglima Divisi III/Priangan. Dua bulan berselang, Presiden Soekarno melantiknya sebagai Panglima Divisi Siliwangi dan menjadi salah satu pemimpin pasukan ketika pecah peristiwa di Madiun.

Pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Abdul Haris Nasution kemudian diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Saat menjabat KSAD, Nasution bersama TB Simatupang, Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia, bermaksud mengadakan restrukturisasi dan reorganisasi angkatan bersenjata.

Rencana tersebut kemudian menimbulkan perpecahan di tubuh angkatan bersenjata. Nasution dan Simatupang didukung Perdana Menteri Wilopo dan Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX. Para Penentang restrukturisasi dan reorganisasi mencari dukungan dari partai-partai oposisi di parlemen.

Melihat hal tersebut, pada tanggal 17 Oktober 1952, Nasution dan Simatupang kemudian memobilisasi tentara untuk menunjukkan kekuatan, serta menentang campur tangan sipil dalam urusan militer dan mengepung Istana negara dengan mobil lapis baja.

Dalam peristiwa tersebut, Nasution menuntut Presiden Soekarno untuk segera membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) karena politikus-politikus dianggap telah mencampuri urusan internal Angkatan Darat. Alih-alih didengar, Nasution malah diberhentikan dari KSAD oleh Soekarno.

Menulis Buku

Belajar dari pengalamannnya ketika memimpin Divisi Siliwangi, Nasution kemudian menulis gagasan dan metodenya mengenai taktik perang gerilya atau Guerrilla Warfare yang diartikan sebagai bentuk perang rakyat dalam melawan penjajahan.

Dari sinilah kemudian terbit buku terkenalnya Pokok-pokok Gerilya (1953) yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing dan menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS).

“Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Jenderal Nasution punya peran dalam Perang Vietnam. Setidaknya, buku Pokok-pokok Gerilya yang ditulisnya pernah diterjemahkan, dipelajari, dan diterapkan oleh tentara Vietkong,” tulis Bakri Tianlean dkk. dalam buku Bisikan Nurani Seorang Jenderal (1997).

Tahun 1966, setelah peristiwa gerakan 30 September, Nasution sempat menduduki jabatan baru sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) hingga ia digantikan oleh Idham Chalid pada tahun 1972. Lima tahun berjalan, seusai pemilihan umum pada 1975, yang diyakini penuh kecurangan dan dimenangkan oleh Golongan Karya, Nasution menyatakan terjadinya krisis kepemimpinan di tubuh Orde Baru.

dok Penkopassus

Bersama mantan Wakil Presiden Hatta, Nasution lalu mendirikan Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (YLKB). Dalam sebuah pertemuan YLKB, Nasution menyatakan Orde Baru tidak benar-benar menjalankan Pancasila dan UUD 1945.

Bersama beberapa orang tokoh, seperti Ali Sadikin, Hugeng Imam Santosa, dan Mohammad Natsir, Nasution kemudian menandatangani Petisi 50 dan mengirimkannya ke DPR pada 13 Mei 1980.

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution wafat pada 6 September 2000, di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta pada usia 81 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

Museum Abdul Haris Nasution

Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat. Museum ini semula adalah kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Selanjutnya keluarga Nasution pindah rumah pada tanggal 29 Juli, 2008 sejak dimulainya renovasi rumah pribadi tersebut menjadi museum.

Di kediaman ini Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution telah menghasilkan banyak karya juang yang dipersembahkan bagi kemajuan bangsa dan negaranya.

Di tempat ini pulalah pada tanggal 1 Oktober 1965 telah terjadi peristiwa dramatis yang hampir merenggut nyawa Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Pasukan Tjakrabirawa G-30S/PKI berupaya menculik dan membunuh dia, namun hal ini gagal dilakukan. Dalam peristiwa tersebut, putri kedua dia, Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur.

Museum Nasional Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution diresmikan pada hari Rabu, 3 Desember, 2008 sore (bertepatan dengan hari kelahiran Pak Abdul Haris Nasution), oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

dok pusjarah TNI AD

Museum seluas 2.000 meter persegi tersebut, merupakan prasasti hidup dan kehidupan Jenderal Besar A.H. Nasution dan keluarga. Di museum ini pengunjung bisa memasuki secara cuma-Cuma tanpa biaya tiket masuk. Selain itu kita bisa melihat barang-barang pribadi milik jenderal bintang lima ini. Mulai dari koleksi buku, pakaian, senjata hingga perabotan yang masih dipertahankan.

Pengunjung diajak Kembali ke masa lalu melalui diorama yang memperlihatkan kronologi penyerangan pasukan Tjakrabirawa yang menewaskan Ade Irma Suryani. Di sini juga ada patung yang memperlihatkan Jenderal Nasution lolos dari serangan dengan melompati pagar.

Menariknya lubang bekas tembakan di tembok dan meja masih dipertahankan, ditandai dengan lingkaran merah. Ada pula ruangan khusus yang memamerkan foto-foto, lukisan serta peninggalan Ade Irma Suryani seperti boneka, tas kulit kecil dan tempat minum plastik.

Museum tersebut dibuka setiap Selasa-Minggu pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. (Dra)