Perang Medan Area, Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI

BACA JUGA

Jakarta, IDM Perang Medan Area, adalah peristiwa perjuangan rakyat Medan melawan pihak sekutu yang ingin menguasai Indonesia. Pascaproklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, rakyat Medan kala itu belum mengetahui dan mendengar informasi tersebut.

Mengutip dari jurnal “Situs Sejarah Garis Demarkasi Perang Medan Area dan Kondisinya Saat Ini di Kota Medan” 2014, ditulis Ayu Triska Yani, menjelaskan peristiwa tersebut disebabkan sulitnya komunikasi dan adanya sensor dari Jepang. Oleh karena itu, berita kemerdekaan Indonesia baru terdengar sampai ke Medan pada 27 Agustus 1945, dibawa oleh Teuku Mohammad Hasan yang pada saat itu diangkat menjadi Gubernur Sumatra.

Hasan ditugaskan oleh pemerintah untuk menegakkan kedaulatan RI di Sumatra dengan membentuk Komite Nasional Indonesia di wilayah itu. Menanggapi berita proklamasi, para pemuda di bawah pimpinan Achmad Tahir pun membentuk Barisan Pemuda Indonesia.

Pada 9 Oktober 1945, pasukan sekutu mendarat di Medan di bawah pimpinan T.E.D Kelly. Pasukan-pasukannya adalah dari Brigade Inggris, termasuk di dalamnya tentara berkebangsaan India. Mereka menduduki kota Medan dan menguasai jalan raya Medan-Belawan, untuk menjamin kelancaran pengangkutan pasukan-pasukannya dari kapal ke Belawan hingga ke kota Medan. Kedatangan pasukan sekutu diikuti oleh pasukan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan. Awalnya, mereka diterima secara baik oleh pemerintahan RI di Sumatra Utara, sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang tentara Belanda.

Akan tetapi, Inggris malah mempersenjatai mereka dan membentuk Medan Batalyon KNIL, terdiri atas seluruh tawanan yang dibebaskan dan dipersenjatai. Para bekas tawanan itu menjadi arogan terhadap para pejuang dan rakyat. Untuk hal ini, masyarakat masih bersabar. Namun, tawanan yang dibebaskan malah menjadi seenaknya dalam mengambil alih pemerintahan.

Lalu, pada 13 Oktober 1945, tentara sekutu yang diboncengi NICA melakukan provokasi bersenjata di jalan Bali sehingga menimbulkan perlawanan dari TKR dan rakyat. Korban berjatuhan dari pihak sekutu (NICA), yaitu opsir Greenberg dan tiga orang Swiss tewas, tujuh KNIL tewas, 99 orang luka-luka. Insiden tersebut dapat diredakan setelah pihak RI dan sekutu melakukan perundingan. Kemudian, pada 15 Oktober 1945 kembali terjadi insiden bersenjata di Pematang Siantar, yang terkenal dengan nama Peristiwa Siantar Hotel, di depan sekolah Timbang Galung yang dijaga oleh para pemuda.

Korban berjatuhan dari pihak sekutu dan Belanda, yakni 17 orang tewas, dan 17 orang personel KL dan sepuluh orang KNIL ditawan. Sedangkan di pihak TKR, Laskar dan para pejuang gugur dua orang atas nama Mda Rajaguguk, dan Ismail Situmorang serta puluhan orang lainnya luka-luka. Pertempuran ini berlangsung dari 13 Oktober 1945 sampai dengan April 1946, sekitar enam bulan. (at)

EDISI TERBARU

sidebar

BERITA TERBARU

POPULER