Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Sang Juru Selamat Magelang

13
dok. Wikipedia

Jakarta, IDM– Gerakan 30 September atau yang biasa dikenal dengan nama G30S/PKI adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam pada tanggal 30 September 1965 ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang yang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta.

Gerakan ini bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis, dimana Dipa Nusantara Aidit sebagai ketuanya.

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, Letkol Untung yang merupakan anggota Cakrabirawa (pasukan pengawal Istana) memimpin pasukan yang dianggap loyal pada PKI. Mereka mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia yang dianggap menjadi hambatan oleh PKI. Salah satunya adalah Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani.

Pria kelahiran Purworejo, 19 Juni 1922 merupakan Komandan Tentara Nasional sekaligus anggota keluarga Wongsoredjo. Wongsoredjo ini mendapatkan penghasilan di pabrik gula yang dikendalikan oleh pemilik Belanda. Tahun 1927.

Pada 1940 ketika perang dunia masih berkecamuk, Ahmad Yani memutuskan untuk menjalani program wajib militer di tentara Hindia Belanda. Dia mempelajari topografi militer di Kota Malang, Jawa Timur.

Pendidikannya sempat terganggu ketika pasukan Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Di waktu yang sama, Ahmad Yani sekeluarganya harus kembali lagi ke Jawa Tengah. Jepang pun meraih kemenangan di Indonesia dan berhasil meruntuhkan Hindia Belanda. Di tahun 1943, Ahmad Yani bergabung dengan satuan tentara bernama PETA yang disponsori Jepang dan latihan militernya berada di Magelang. Setelah pelatihan ini selesai, Ahmad Yani segera mengikuti pelatihan sebagai pemimpin peleton PETA dan dipindahkan ke Bogor, Jawa Barat. Setelah pelatihan selesai, kemudian Ahmad Yani dikirim lagi ke Magelang menjadi instruktur.

Pengalaman Militer

Sesudah perang Kemerdekaan selesai, Yani bergabung tentara dan berperang melawan Belanda. Di beberapa bulan pertama setelah proklamasi kemerdekaan, Ahmad Yani menciptakan dan memimpin sebuah batalion untuk menghadapi Inggris di Magelang. Ia pun berhasil menghancurkan Inggris. Tidak berhenti di situ, Ahmad Yani juga berhasil mempertahankan Magelang ketika Belanda mencoba untuk mengambil alih Magelang. Kepahlawanannya di Magelang ini membuat ia mendapat julukan Juru Selamat Magelang.

Setelah perang mempertahankan Indonesia selesai, Ahmad Yani pindah ke Tegal, Jawa Tengah. Tahun 1952 dia dipercaya untuk menghadapi Darul Islam yang mencoba untuk mendirikan sistem pemerintahan teokrasi di Indonesia. Ahmad Yani kemudian membentuk satuan pasukan khusus bernama The Banteng Raiders. Banteng Raiders menghajar Darul Islam selama 3 tahun ke depan dan terus menderita kekalahan satu demi satu. Perang melawan Darul Islam selesai pada 1955.

dok. Wikipedia

Desember 1955 Ahmad Yani berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar ilmu Komando dan Staf Umum College, Fort Leavenworth di Kansas. Ahmad Yani baru kembali pada tahun 1956 kemudian dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta.

Di Markas Besar inilah, Ahmad Yani menjadi anggota staf Umum untuk Abdul Haris Nasution. Selain itu juga menjabat sebagai Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk urusan Organisasi dan Kepegawaian.,

Ahmad Yani diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat menggantikan Jenderal Nasution pada 13 November 1963. Di masa itu, sistem pemerintahan sedikit berbeda dengan sekarang. Sehingga ketika diangkat, Ahmad Yani juga sekaligus menjadi anggota kabinet.

Meninggalnya Ahmad Yani

Ahmad Yani adalah orang yang sangat anti-komunis dan tentunya mulai waspada pada perkembangan PKI yang sangat pesat di masa itu. Kebenciannya terhadap komunis semakin bertambah ketika PKI memberikan dukungan untuk membentuk angkatan kelima. Angkatan kelima adalah angkatan setelah tiga angkatan TNI dan polisi yaitu mempersenjatai buruh dan tani. Terlebih lagi Bung Karno, di sisi ideologi, mencoba untuk memaksa ideologi Nasionalis-Agama-Komunis (Nasakom) sebagai doktrin di militer.

1 Oktober 1965 dini hari. PKI mengirim satu tim dari sekitar dua ratus orang ke rumah Ahmad Yani yang berada di Jalan Latuhahary No. 6 Menteng, Jakarta Pusat. Para penculik yang datang ke rumahnya untuk membawa Ahmad Yani. Ia menyanggupi dan mengatakan bahwa dirinya membutuhkan waktu sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Pasukan penculik yang datang disebut dengan Pasukan Pasopati.

Penculik menolak permintaan Ahmad Yani dan tentu Ahmad Yani sangat marah lalu menampar salah satu penculik dan menutup pintu rumahnya. Salah seorang penculik kemudian menembak dan berhasil membunuh Ahmad Yani. Sang Jenderal kemudian dibawa Lubang Buaya Jakarta. Ahmad Yani diseret bersama dengan para jenderal yang diculik lalu disembunyikan di sebuah sumur yang sudah tidak terpakai.

Plak menandai tempat ketika Yani jatuh setelah ditembak oleh anggota G30S/ dok. Wikipedia

Jasad Ahmad Yani dan para korban Gerakan 30 September yang lain diangkat dari sumur pada tanggal 4 Oktober. Pada 5 Oktober dilakukan upacara khas kenegaraan lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Kalibata. Ahmad Yani dan para korban Gerakan 30 September resmi dinyatakan sebagai pahlawan Revolusi pada hari yang sama sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965. Secara anumerta, pangkatnya dinaikkan dari Letnan Jenderal ke Jenderal Bintang Empat.

Istri Ahmad Yani mengajak para anaknya pindah rumah setelah suaminya gugur di peristiwa Gerakan 30 September. Kemudian, rumah Ahmad Yani dijadikan museum publik yang membahas banyak hal khususnya penyerangan terhadap Ahmad Yani pada malam peristiwa yang mencekam tahun 1965 itu. Bahkan hingga kini, lubang peluru di dinding dan pintu masih ada. Keadaan interior rumah dan perabotannya masih sama dengan kondisi waktu itu.

Ini bertujuan untuk mengenang Jenderal Ahmad Yani. Selain diangkat sebagai Pahlawan Revolusi dan didirikan museum, banyak jalan di kota yang dinamai Jalan Ahmad Yani. Namanya juga diabadikan sebagai nama Bandar Udara Internasional di Semarang.