Sabtu, 2 Maret 2024

Tangis Haru Penerima Kaki Palsu dari Program Bakti Sosial Lanud Ats

BACA JUGA

Bogor, IDM – Sebanyak 24 orang penyandang disabilitas mendapat bantuan kaki palsu dari program bakti sosial Lanud Atang Sendjaja (Ats) dalam rangka memperingati Hari Bakti TNI AU ke-76 di Rumah Sakit TNI Angkatan Udara (RSAU) dr. M. Hassan Toto, Kab. Bogor pada Rabu (26/7).

Salah seorang penerima kaki palsu bernama Sopiyanti Afriani (32) menceritakan awal mula ia terpaksa harus hidup tanpa kaki kiri. Sopiyanti seakan-akan menggali ingatannya tiga tahun lalu. Kala itu, ia berangkat dari kediamannya di Cibungbulang, Kab. Bogor untuk menghadiri sebuah acara di Sukabumi.

Siapa sangka, tanggal 1 November 2022 jadi hari terakhirnya memiliki fisik sempurna. Sebab, motor yang ia kendarai terjatuh saat mencoba ‘nyalip’ tepat di belakang roda truk di jalan Cikembar, Kab. Sukabumi. Tak sempat berpindah, kaki kirinya langsung terlindas dan ia segera dilarikan ke RSUD Sekarwangi dibantu oleh aparat maupun warga sekitar yang melihatnya.

Baca Juga: Peringati Hari Bakti TNI AU ke-76, Lanud Ats Gelar Bakti Sosial

Oleh karena keadaannya yang membutuhkan perawatan khusus, Sopiyanti dirujuk ke PMI Kota Bogor. Disanalah kaki kirinya diamputasi dan dibiayai oleh perusahaan ternama tempat si supir truk bekerja.

Setelah kehilangan kaki kirinya, Sopiyanti memilih mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Tetapi, ia tetap berusaha mencari nafkah seorang diri dengan berjualan bakso di kontrakan demi menghidupi dua orang anaknya yang masih sekolah.

Sopiyanti
(IDM/Albrianso Wayapen)

Singkat cerita, awal bulan lalu ia mendapatkan info terkait kegiatan bagi-bagi kaki palsu yang digelar Lanud Ats bekerja sama dengan Yayasan Kick Andy.

Sopiyanti dibantu mendaftarkan diri oleh Mimin, utusan pendamping disabilitas Kec. Cibungbulang. Menurut Mimin, setiap kecamatan memiliki staf khusus yang mendata orang-orang berkebutuhan khusus. Kemudian, Mimin mengirimkan data itu ke otoritas RSAU dr. M. Hassan Toto untuk di screening.

Baca Juga: Panglima TNI Soal Latma se-ASEAN: Bakal Manuver di Laut Natuna

Dari ratusan orang yang mendaftar, Sopiyanti mengaku sangat bersyukur karena lolos seleksi. Ia pun tidak mengerti kenapa menjadi orang terpilih untuk mendapatkan kaki palsu. Menurutnya, prosesnya tidaklah sulit, ia hanya harus mempersiapkan KK, KTP, foto, dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa.

Sopiyanti
(IDM/Albrianso Wayapen)

“Prosesnya cepet cuma sepuluh hari dari saya dikabari lolos seleksi dan kaki saya langsung diukur di RS ini. Alhamdulillah, disini saya dapat kesempatan baik. Saya nangis juga tadi nangis bahagia, selama tiga tahun itu rasanya saya udah pengen lari,” kata Sopiyanti menahan haru.

Usai mendapat ‘kaki’ baru, Sopiyanti ingin kembali bekerja seperti semula. Hanya saja, ia merasa butuh waktu untuk beradaptasi hingga bisa jalan layaknya orang normal.

“Jauh sebelum ini emang udah diniatin, kalau dapet kaki palsu, Sopi pengen kerja. Nanti abis (acara) ini saya pengen langsung pulang ketemu anak-anak,” pungkasnya.

Baca Juga: Hadapi Pelanggaran Kedaulatan dan Hukum di Laut Maluku, Lantamal IX Gelar Latihan VBSS

Selain Sopi, ada juga penerima kaki palsu bernama Zulma Ramdani (9). Menurut sang Ibu, anaknya memang terlahir tidak sempurna. “Alhamdulillah, terima kasih. Jadi anak saya bisa sekolah, syukur banget, ada yang bisa kasih kaki palsu.”

Menurut Riska, ia dibantu adiknya untuk mendaftarkan Zulma ke kecamatan. Prosesnya tidak jauh berbeda seperti Sopi hingga akhirnya mendapat kaki palsu.

“Selama ini anak saya kemana-mana perginya pakai lutut. Kalau temen-temennya main, dia cuman bisa liat aja. Sekarang, dia bisa berangkat sekolah sendiri, bisa nari, bisa lari,” ujarnya seraya tersenyum memancarkan rasa bahagia. (bp)

BERITA TERBARU

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

POPULER