Selasa, 5 Maret 2024

Rusia Khawatir Konflik Kosovo Jadi Semakin Berbahaya

BACA JUGA

Jakarta, IDM – Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa pihaknya akan terus memantau situasi konflik di Kosovo, yang dinilai berpotensi menjadi semakin membahayakan warga sipil usai bentrokan antara pihak-pihak terkait.

Dilansir dari Reuters, Selasa (26/9), kelompok bersenjata etnis Serbia di Kosovo menyerbu sebuah desa dan terlibat bentrokan dengan polisi. Situasi itu membuat Peskov mengaku prihatin dan akan membantu Kosovo meredakan situasi konflik.

Baca Juga: Ukraina Klaim Rusia Serang Pelabuhan dan Silo Gandum

“Situasinya sangat sulit. Di Kosovo, kami melihat sikap yang bias terhadap Serbia. Situasinya sangat, sangat tegang dan berpotensi berbahaya, kami memantaunya dengan sangat cermat,” kata Peskov.

Rusia sendiri tidak mengakui Kosovo, yang mayoritas berpenduduk etnis Albania, sebagai negara merdeka. Rusia juga mempunyai ikatan agama maupun budaya yang erat dengan Serbia.

Sementara, Kementerian Luar Negeri Rusia secara terang-terangan menyalahkan otoritas lokal Serbia yang memicu konflik terus berlanjut. Mereka pun memperingatkan bahwa situasi itu berpotensi menjadi tidak terkendali, dan menyebar ke wilayah Balkan lainnya.

Baca Juga: Tanggapi Filipina, Cina Tegaskan Klaim Kedaulatan atas Scarbourogh Shoal

“Tidak ada keraguan bahwa pertumpahan darah itu merupakan konsekuensi langsung dari tindakan Perdana Menteri Albin Kurti yang memicu konflik. Dan ada ancaman langsung terhadap dimulainya kembali pembersihan etnis yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok radikal Kosovo-Albania,” katanya.

Sebagai informasi, Kosovo mendeklarasikan kemerdekaannya dan memisahkan diri dari Serbia pada 2008. Dimana mayoritas penduduk Kosovo adalah etnis Albania, dengan 1,8 juta penduduk. Namun, hingga kini puluhan warga Serbia di perbatasan tidak mengakui deklarasi kemerdekaan Kosovo tersebut. (bp)

BERITA TERBARU

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

POPULER