Nagorno-Karabakh: Kota-kota Penting Jadi Target Serangan

13
Kebakaran akibat serangan bersenjata di Stepanakert, kawasan regional yang dihantam bara konflik Nagorno-Karabakh, Sabtu (4/10). /Dok. Gor Kroyan

Armenia dan Azerbaijan saling tuding sengaja membidik daerah berpenduduk.

JAKARTA, IDM – Eskalasi konflik di Nagorno-Karabakh yang disengketakan memuncak. Baku tembak antara tentara Armenia dan Azerbaijan berlanjut, memasuki pekan kedua. Mereka pun saling tuding dan menyalahkan lantaran membidik kota-kota penting, serta membahayakan keselamatan warga sipil tak berdosa. 

Pertempuran genap sembilan hari, Senin (5/10) ini. Kedua pihak bertikai mengabaikan seruan gencata senjata yang disuarakan dunia internasional. Sementara Azerbaijan menegaskan bahwa Turki harus mengambil langkah-langkah penting untuk penyelesaian konflik.

Di sisi lain, pusat informasi yang dikelola pemerintah Armenia merilis tayangan yang memperlihatkan serangan artileri oleh pasukan Azeri ke Kota Stepanakert, Minggu (4/10). Otoritas berwenang Armenia menyebut, serangan itu merenggut nyawa warga. Tergambar dalam video bangunan-bangunan rusak berat termasuk blok apartemen. Sebuah ruas jalan tertimbun puing yang berserakan.

Bombardemen dilaporkan semakin intensif pada Minggu malam. Lima warga sipil tewas.

Kementerian Pertahanan Armenia, melalui linimasa Twitter resmi mereka, menyatakan bahwa pasukan Azeri menembakkan roket ke Stepanakert dan Shushi dalam intensitas yang cukup besar. “Pertempuran sengit sedang berlangsung,” demikian tweet mereka, hari ini.

Senada, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Anna Naghdalyan menyebut angkatan bersenjata Azerbaijan terus-menerus menghujani Stepanakert dengan bom tandan.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Azerbaijan menuding balik tentara Armenia memberondong tiga kota mereka—Beylagan, Barda, dan Terter—dengan tembakan beruntun usai menghantam Ganja dan Mingecevir, Minggu. Dua kota terakhir yang disebutkan merupakan kota terbesar kedua dan keempat. 

Kepala Departemen Urusan Kebijakan Luar Negeri Azerbaijan Hikmet Hajiyev menyatakan, empat rudal balistik Tochka dilesakkan ke arah Mingecevir. Kota ini berjarak 100 km dari perbatasan dengan Armenia dan berpenduduk 100 ribu jiwa. Akan tetapi, tudingan tersebut dibantah Juru Bicara Kemhan Armenia, Shushan Stepanyan. Ia menyebut tuduhan tersebut fiktif dan tak berdasar.

“Tidak ada tembakan dari Armenia. Ini adalah gelagat pihak Azerbaijan yang mulai putus asa,” tulis Stepanyan di Twitter.

Kemarin, Komite Internasional Palang Merah mengecam laporan tentang “serangan tanpa pandang bulu dan dugaan pelanggaran hukum lainnya terkait penggunaan senjata peledak di ibu kota dan kota-kota lainnya, termasuk areal berpenduduk.”

Saling Tuding Barter Peluru

Empat tahun berlalu, bentrokan terbaru pecah pada 27 September 2020. Puluhan orang tewas. Babak baru aksi saling tembak ini menandai eskalasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir, seiring konflik menahun di wilayah tersebut. Nagorno-Karabakh terletak di dalam teritori Azerbaijan, namun sepenuhnya berada di tangan pasukan lokal dari etnis Armenia yang didukung (negara) Armenia.

Dalam pidato berapi-api pada hari Minggu, Presiden Azerbaijan Aliyev menetapkan beberapa persyaratan untuk memenuhi imbauan gencatan senjata. Ia menegaskan, tentara Armenia harus meninggalkan wilayah mereka. Bukan dengan kata-kata tetapi perbuatan (benar-benar melakukannya). 

Mereka memberikan jadwal untuk penarikan pasukan, meminta maaf kepada rakyat Azerbaijan, dan mengakui integritas wilayah Azerbaijan. Yerevan (Ibu Kota Armenia) menolak tuntutan Aliyev. Sebagai jawaban, kepresidenan Karabakh balik mengancam akan “memperluas aksi (militer) berikutnya ke seluruh wilayah Azerbaijan.”

Sumber-sumber Armenia menyebutkan korban tewas akibat pertempuran di wilayah itu—yang dihuni 145 ribu jiwa–lebih dari 200 orang, sementara Azerbaijan baru-baru ini mengatakan bahwa 19 warga sipil tewas dan 60 lainnya luka-luka.

Sekretaris Jenderal Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg pun ‘mengeraskan suara’ agar bentrokan di Nagorno-Karabakh segera disudahi. “Tidak ada solusi militer,” kata Stoltenberg saat berkunjung ke Turki, menyerukan gencatan.

Ankara adalah sekutu terkuat Baku, dan telah memberikan dukungannya di belakang Azerbaijan dalam konflik tersebut. Aliyev dalam wawancara dengan TRT Haber pada Senin mengatakan, Ankara harus terlibat dalam setiap langkah untuk mengakhiri konflik.

Pejabat Kementerian Pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan berkata, “Saya kira tidak ada risiko apa pun bagi Yerevan, tetapi bagaimanapun kami sedang berperang.”

Rusia, yang memiliki pakta pertahanan dengan Armenia, juga memasok senjata ke Azerbaijan. Moskow telah menyatakan keprihatinan tentang meningkatnya jumlah korban sipil.

Melalui panggilan telepon dengan mitranya dari Armenia Zohrab Mnatsakanyan pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyerukan gencatan senjata secepat mungkin. Desakan serupa disampaikan Kanselir Jerman Angela Merkel dalam perbincangannya dengan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan—juga melalui sambungan telepon.

Sebelumnya, Azerbaijan dan Armenia berperang di Nagorno-Karabakh pada akhir 1980-an dan awal 1990-an saat mereka beralih ke negara-negara merdeka di tengah runtuhnya Uni Soviet. Perang, yang berakhir dengan perjanjian damai yang rapuh pada 1994, diperkirakan telah menewaskan puluhan ribu orang, termasuk lebih dari seribu warga sipil. (ISA)