Mengenal Sosok Pahlawan Polisi Pertama Ajun Inspektur Polisi Dua Anumerta Karel Sadsuitubun

73
Karel Sadsuitubun/dok. wikimedia commons

Ada banyak cara untuk mengenang jasa seorang pahlawan. Seperti dibuatkan monumen, nama jalan, bahkan dijadikan nama bandar udara. Seperti nama salah seorang pahlawan revolusi pertama dari Polri yang namanya diabadikan menjadi nama kapal dan jalan di Indonesia bahkan nama bandar udara di daerah asalnya, dia adalah Karel Sadsuitubun yang telah menjadi pahlawan di usia 37 tahun Dia adalah seorang Polisi berpangkat Agen Polisi Kelas Dua atau setara dengan Bhayangkara Dua Polisi yang menjadi korban pasukan penculik peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) saat sedang berjaga di rumah Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena 55 tahun silam.

Sejatinya Karel bukanlah target dari G30S, hanya saja saat Pasukan Tjakrabirawa hendak menculik Jenderal Besar Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar, Sebagian dari mereka melumpuhkan pengawal yang menjaga rumah Johannes Leimena yang berdekatan dengan rumah Nasution. Saat itu Karel dapat giliran tidur dalam pos jaga, kawannya yang lain di lokasi yang berbeda.

AIP Karel Sadsuitubun saat G30S PKI 1965/ dok. pahlawancenter.com

Dua orang pasukan menghampiri pos dan membangunkan Karel yang sedang tertidur. Senjata Karel masih melekat di tubuhnya. Karel mengira dia sedang diganggu kawan-kawannya. “Karena itu ia tidur terus sambil marah-marah, katanya orang sedang tidur diganggu.” Namun si pasukan penculik terus menendang. Karel pun terbangun dan sadar, bukan kawannya yang mengganggu.

“Karel melompat yang ada di depannya langsung berkelahi” dengan anggota gerombolan Cakrabirawa yang dicap PKI itu. Begitu kisah gugurnya Karel Sadsuitubun dalam buku biografi Karel Sadsuitubun (1981) yang disusun Frans Hitipeuw.

Berdasarkan kutipan Abdul Haris Nasution di buku Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 6 Masa Kebangkitan Orde Baru (1987) dari buku Dari Hati ke Hati menyebut: “Ada satu orang (penculik) yang terus memasuki kediaman Pak Leimena, terus masuk ke gardu jaga dan merebut senjata Pak Karel yang masih sempat melakukan perlawanan. Tetapi karena satu orang lawan delapan, maka sesudah ditembak tewaslah dia.”

Karena perlawanan yang tidak seimbang, Pasukan Tjakrabirawa langsung menghantam Karel dengan timah panas. Seketika Karel pun roboh bersimbah darah. Ia meninggal dini hari 1 Oktober 1965. Karel meninggal dunia dua minggu sebelum hari ulang tahunnya yang ke-37. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Setelah kejadian tersebut, Karel dinaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Ajun Inspektur Polisi Kelas Dua dan pemerintah memberinya gelar Pahlawan Revolusi Indonesia.

Polisi Pertama Dengan Gelar Pahlawan

Karel lahir di Tual, 14 Oktober 1928. Ketika Dewasa dia memutuskan untuk menjadi anggota Polri, dan akhirnya lulus pada saat mengikuti pendidikan polisi dan di tempatkan pada kesatuan Brimob Ambon. Saat Karel bertugas di Jakarta dan menjaga kediaman Leimena, pangkatnya pun berangsur-angsur diangkat menjadi Brigadir Polisi.

Pada 1951, Karel masuk Sekolah Polisi Negara di Ambon sejak Agustus 1951. Pada 9 Februari 1952, dia menyandang pangkat Agen Polisi II, dengan gaji Rp97,50. Pada 23 September 1952, Karel dipindahkan ke Jakarta, dan dimutasi ke dalam Brimob. Tugasnya di sekitar Cilincing, Jakarta Utara. Pada 1954, pangkatnya naik jadi Agen Polisi I dan gajinya sudah Rp137. Di tahun yang sama dia ikut latihan Brimob di Sekolah Polisi Negara Megamendung, Bogor, Jawa Barat.

Tahun berikutnya, pada 18 Februari 1955, Karel mulai bertugas di Sumatera Utara. Pada 1956, dia sempat tiga bulan bertugas di Aceh. Saat ia bertugas, Aceh sedang bergejolak pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Daud Beureuh. Setelah tugas itu, pada 1958 Karel dikembalikan ke Jakarta. Ia ditempatkan di Ciputat.

Bandara Karel Sadsuitubun Langgur, Maluku Tenggara/ dok. wikipedia

Karel menikah pada tahun 1959 dengan Margaritha Waginah dan dikarunia 3 orang anak, yaitu Philipus Sumarno, Petrus Indro Waluyo, dan Linus Paulus Suprapto. Tahun 1960, tepatnya tanggal 2 September, Karel ditugaskan selama 6 bulan ke Sumatra Barat untuk mengatasi pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).Karel juga pernah ikut dalam operasi Trikora pembebasan nIrian Barat.
Ia masuk dalam pasukan gabungan bersama Angkatan Darat. Selain melawan DI/TII dan PRRI/Permesta. Karel pernah ikut dalam operasi Trikora pembebasan Irian Barat. Pulang dari Papua pada September 1963, pangkatnya sudah Brigadir Polisi.

Pada 1960, sejalan dengan kenaikan pangkatnya, gaji Karel naik. Namun, masa-masa tersebut Indonesia mengalami inflasi yang tinggi, sehingga kehidupan mereka tetap sulit. Sampai pada akhirnya, Karel mendapati akhir perjalanan hidupnya di malam jahanam itu.

Meletusnya peristiwa G30S pada 1965 membuat nama Karel Satsuit Tubun kian harum. Karel menjadi polisi pertama yang mendapatkan gelar pahlawan dari Pemerintah Republik Indonesia dengan gelar Pahlawan Revolusi.

Nama Karel Sadsuitubun yang hanya seorang Brigadir Polisi dan menyandang gelar Pahlawan Revolusi banyak disebut dalam sejarah Indonesia. Sepintas dikenang sebagai korban G30S karena dia bukan target penculikan, seperti Pierre Tendean (Ajudan Naustion).

Kisah tentang hidupnya tak seutuh kisah-kisah pahlawan revolusi lain. Riwayat hidup Karel Satsuit Tubun pernah diteliti oleh Frans Hitipeuw, dalam buku biografi Karel Sasuit Tubun (1981). Namun, hanya separuh bagian saja dalam buku yang membahas tentang dirinya, sisanya sejarah tentang Brimob.

Patung Karel Sadsuitubun di tempat kelahirannya/ dok. Detik.com

Menurut Frans Hitipeuw, Karel punya paman yang pernah dinas sebagai KNIL–militer era kolonial Indonesia yang disebut Koninklijk Nederlandsch Indische Leger di Jawa, yang bernama Damaskus Satsuit Tubun. Sementara itu abangnya Efraim Satsuit Tubun juga pernah jadi KNIL dan menetap di Belanda.

Kondisi zaman kolonial membuat banyak orang Indonesia masuk KNIL, termasuk keluarga Karel. Latar belakang keluarga yang terdapat anggota yang pernah jadi militer rupanya memengaruhi Karel untuk bergabung dengan militer, setidaknya sebagai paramiliter. Kebetulan di kala Karel dewasa, Indonesia punya pasukan paramiliter yang dikenal sebagai Brimob.

Karena tercatat sebagai seorang Pahlawan Nasional, Karel Sadsuitubun namanya pun dikenal dan dijadikan nama jalan di berbagai daerah dengan disingkat menjadi KS Tubun. Namun, keluarga besarnya melayangkan protes, karena singkatan tersebut tidak benar. Penulisan pada kata Sadsuitubun yang benar adalah digabung, tidak dipisah menjadi Sadsuit Tubun. Sehingga jika ingin disingkat, namanya menjadi K Sadsuitubun, bukan KS Tubun.

Saat Karel meninggal, istri dan tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Anak tertua Karel baru menginjak usia lima tahun kala itu. Mereka tinggal di Asrama Brimob Kedunghalang, Bogor. (Dra)