Memimpin Tentara Milenial TNI AL

80
Latihan Gabungan Gugus Tempur/IDM-Septiawan

Perbedaan generasi dalam lingkungan kerja menjadi salah satu subjek yang sering muncul dalam perkembangan manajemen sumber daya manusia, sebagaimana yang terdapat pada manajemen sumber daya manusia di tubuh TNI. Manheim, sosiolog asal Jerman, mengklasifikasikan macam-macam generasi berdasarkan kesamaan umur dan pengalaman historis menjadi beberapa generasi. Sehingga pada masa tersebut mulai berkembang kelompok generasi yang popular diketahui seperti generasi baby boomers, generasi X, generasi Y (generasi milenial), dan generasi Z (generasi alpha).

Kita sering kali mendengar istilah generasi milenial, meski tak paham betul makna istilah tersebut, yang masuk dalam percakapan sehari-hari. Sebagai gambaran singkat, Generasi Milenial, yang juga punya nama lain Generasi Y, disebut merupakan kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980 sampai tahun1998. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada tahun 1923.

Perkembangan generasi yang memiliki karakter berdasarkan tren dan teknologi pada masa itu menjadikan mereka memiliki ciri khas berbeda-beda dalam menyikapi tantangan. Begitu pula dengan tren pemilihan pekerjaan, pada generasi baby boomers yang lahir sekitar tahun 1946-1965 cenderung memiliki karakter yang kuat dan berpikiran terbuka cenderung memilih pekerjaan dengan hirarki kepemimpinan, suasana yang hangat dan ramah di kantor, susasana yang demokratis dan memiliki etos kerja tinggi, rata-rata mereka saat ini berada pada jajaran tinggi di perusahaan.

Sedangkan generasi milenial yang memiliki selisih sekitar 30 tahun dari generasi baby boomers cenderung memiliki jiwa bebas, menyukai perbedaan, memiliki toleransi yang tinggi, penuh ambisi, memanfaatkan teknologi cenderung memilih pekerjaan yang memilii fleksibilitas tinggi, mereka mengharapkan tantangan dan kolaborasi, kebanyakan akan menjadi wirausaha dan mengembangkan bisnis-bisnis berbasis digital atau bekerja di industri kreatif. Melihat dispilin dan etos kerja dengan karakter yang berbeda, menjadikan generasi milenial tidak banyak tertarik pada bidang yang dianggap sangat struktural dan penuh dengan aturan mengikat, seperti kurangnya minat untuk bergabung pada militer. Meskipun demikian tidak semua generasi milenial tidak menyukai bekerja pada bidang militer, hanya saja jumlah mereka tidak sebanyak pekerja industri swasta atau informal lainnya.

Hal ini menjadi tantangan bagi TNI untuk mengelola sumber daya manusia, dimulai dari memperhatikan kriteria perekrutan calon prajurit milenial. Pertama, gambaran umum seorang pekerja milenial adalah googler, yang punya ketergantungan tinggi terhadap teknologi dan aplikasi, sehingga perekrutan saat ini bisa dilakukan lebih mudah dengan menggunakan teknologi untuk menjangkau kesempatan bagi pemuda milenial di berbagai penjuru Indonesia. Kedua, mereka sangat kreatif, mereka mudah menemukan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, jadi yang harus dilakukan oleh institusi TNI adalah mendorong kecerdikan itu dengan memberikan ruang yang cukup tanpa mengganggu tradisi inti TNI atau prosedur operasi standar (SOP yang berlaku di tubuh TNI). Ketiga, manajemen manusia tidaklah mudah, sehingga diperlukan jajak pendapat antara pimpinan yang saat ini sebagian besar adalah generasi baby boomers dan generasi X, seperti yang diungkapkan oleh Robert Carr perlu adanya cara bekomunikasi yang disesuaikan pada level tertentu.

Lantas apa yang terjadi ketika generasi milenial bergabung dengan militer?

Tantangan signifikan yang dihadapi para pemimpin militer dewasa ini adalah tantangan yang unik untuk memimpin para milenial. Tantangan mengorganisir manusia pada TNI bukan sesuatu yang mudah, sebab trade-off yang terjadi dikalangan TNI biasanya bertentangan dengan tujuan utama organisasi. TNI dihadapkan dalam kondisi dimana komposisi prajurit di era modern diisi oleh usia muda generasi milenial dan generasi alpha, mereka harus menjadikan iklim kerja di militer menjadi lebih menarik dan kondusif untuk mewadahi karakter jiwa muda yang sangat dinamis ini, di sisi lain TNI harus tetap memegang tradisi dan standar operasi yang paten untuk menjaga kemurnian hakikat sebuah institusi militer. Ini menjadi tugas yang tidak mudah ketika budaya kerja militer dan budaya sosial yang mempengaruhi karakter seseorang harus ditemukan dalam satu wadah.

Kebanyakan generasi milenial di level perwira berada pada tingkat pangkat letnan dua hingga kapten. Sebagai militer, generasi tersebut memberi warna terhadap transformasi militer yang adaptif terhadap sumber daya manusia dan tantangan yang berkembang. Para tentara yang lahir diantara tahun 1980-1998 memiliki potensi yang tinggi dalam menghadapi tantangan di era modern, meskipun tidak menutup kemungkinan generasi yang lahir sebelum 1980 dan masih aktif menjabat sebagai pemimpin di jabatan tinggi TNI AL juga memiliki kemampuan adaptif yang cepat.

“Tentara Milinial harus kita akui, mereka sangat siap dengan zamannya karena mereka didewasakan oleh lingkungannya” menurut Laksdya Octavian ada banyak yang dapat dijadikan keuntungan sekaligus tantangan dalam mengelola jiwa muda yang saat ini mereka benar-benar lahir dan tumbuh bersama teknologi. Generasi milenial mampu memanfaatkan teknologi untuk membentuk jejaring pertemanan, kenalan, dan rekan kerja yang rumit yang tidak mampu dicapai oleh generasi sebelumnya. Hal ini jika disikapi dengan positif akan berpeluang menjadi asset besar bagi organisasi yang beroperasi di bidang teknologi pertahanan. Meskipun hal tersebut juga bisa menjadi kerentanan karena internet yang pada dasarnya dapat digunakan untuk mengeksploitasi personel dan merusak budaya organisasi.

Meski Generasi Milenial dianggap lebih siap secara intelektual untuk menghadapi model ancaman di era modern dengan berbagai ketidakpastian, terkadang gaya komunikasi dalam pendidikan awal menjadi hal yang sulit untuk pemimpin melatih para tentara muda. Hal ini disebabkan cara berkomunikasi di lingkungan tentara dengan generation gap  yang sangat jauh terpaut 30 tahun antara perwira muda dan pimpinan. Penanaman doktrin militer dengan metode komunikasi yang tepat akan membantu pemahaman tentara muda menjadi lebih mudah. Tidak dapat dipungkiri bahwa bagi calon generasi milenial yang memutusakn akan berkarir dan menghabiskan sisa hidupnya di bidang militer perlu memahami bagaimana cara kerja komunikasi di bidang militer sangat berbeda dengan industri lain.

Pengembangan pola komunikasi saat ini juga telah banyak berkembang menyesuaikan zaman. Perbedaan cara komunikasi pada era 80an tidak lagi relevan diterapkan pada masa kini, seringkali gap komunikasi yang terjadi antara pimpinan dan para prajurit milenial adalah karena adanya perbedaan persepsi. Cara berfikir tentang nilai-nilai yang dianggap penting pada komunikasi klasik adalah komunikasi satu arah (perintah), sedangkan tentara milenial lebih menyukai adanya komunikasi dua arah dan tenara yang masih konservatif sulit menerima perubahan tersebut.

Cara mengatasi perbedaan gaya komunikasi lintas generasi ini perlu diperhatikan dengan membekali ilmu komunikasi pada prajurit TNI AL, di berbagai tingkatan pangkat dan jabatan. Saat ini komunikasi efektif harus menjadi bekal utama untuk menyampaikan informasi dan perintah menjadi tepat sasaran.

“Tentara juga mengenal proses demokrasi, dalam hal berbeda pendapat sebelum diputuskan oleh pimpinan, itu adalah hal yang lumrah. Namun bila sudah menjadi keputusan pimpinan, tanpa kecuali harus patuh untuk melaksanakannya” sebagaimana pendapat Laksdya Octavian, hasil keputusan berbentuk perintah tentu harus memiliki dasar komunikasi yang baik setelah melalui berbagai pertimbangan khusus. Hal ini akan menjadi bekal para tentara muda di masa akan datang untuk mengembangkan diplomasi militer, terlebih Angkatan Laut dikenal dengan pengembangan diplomasi terbaik dengan Naval Diplomacy-nya, yang dikembangkan oleh Ken Booth tahun 1977, yang masih populer dan terus berkembang sampai hari ini.

Menyiapkan perekrutan hingga pengelolaan SDM TNI AL

Perbedaan signifikan perekrutan pada Akademi TNI AL di era 1980an dibandingkan 10-20 tahun setelahnya adalah dari tata cara perekrutan yang memanfaatkan teknologi. Hal pertama yang menjadi sorotan adalah TNI AL kini menjadi organisasi TNI yang memanfaatkan teknologi menjadikan proses rekrutmen menjangkau banyak lokasi di Indonesia dan semakin transparan di setiap prosesnya. Selain itu kurikulum di era tahun 2000an lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta revolusi di bidang militer dibandingkan era tahun 80an dengan akses teknologi dan informasi belum cukup berkembang pada masa itu. Terakhir, tata laksana pendidikan di era 2000an lebih tertata dengan baik didukung oleh komponen pendidik yang memadahi disbanding era thun 80an.

Ketiga perbedaan tersebut mempengaruhi kualitas dan karakter pada masanya. Tentara yang dibentuk lewat pendidikan di era 80an memiliki karakter yang militan, loyalitas tinggi, pengabdian yang tulus bagi bangsa dan negara serta tidak terlalu memprioritaskan pangkat, jabatan dan karir. Namun terbatas akan pemahaman terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta cenderung resisten terhadap perubahan dan pro status quo. Sedangkan Tentara yang dibentuk lewat pendidikan di era 2000an memiliki ciri khas dan karakter: berpikir kritis, progresif, sadar dengan perkembangan teknologi, memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan perubahan serta tidak suka dengan status quo. Namun cenderung berpikir instan, tidak mau mengikuti proses dan yang paling berbahaya yaitu banyak yang terjebak dalam materialisme, hedonisme dan money-oriented.

Lembaga pendidikan adalah lembaga pembentukan, penggemblengan sekaligus mimbar akademik. Sebagai bagian dari institusi militer, lembaga pendidikan TNI harus tetap keras, disiplin serta menjunjung tinggi hierarki dan kehormatan militer. Di samping itu, lembaga pendidikan militer juga berperan sebagai pusat pengkajian, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini berarti lembaga pendidikan TNI  memiliki peran dan tanggung jawab untuk menghasilkan pemikiran dan konsep baru bagi kemajuan TNI dan bangsa Indonesia termasuk menguji konsep, ilmu dan doktrin dengan realita dan kondisi kekinian.

Perlu diciptakan suatu keseimbangan antara disiplin militer dan pengembangan potensi akademik. Hal ini menuntut fleksibilitas yang tinggi dari lembaga pendidikan TNI untuk tidak hanya sekedar mendoktrin tapi juga mewadahi lahirnya generasi penerus yang memiliki gagasan dan pemikiran yang cemerlang serta visioner melakukan langkah diantaranya: Multi language communications capability; Sadar dan paham perihal fungsi, bentuk dan jenis komunikasi; memperkuat Karakter (mental, militansi, fisik); Perlu adanya Maritime Structural Awarness; memperkuat dasar IPTEK; mempertahankan Kemampuan dasar prajurit (berlari menembak beladiri; Mengedepankan pendidikan dalam pengembangan organisasi.

Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengelolaan SDM tentara milenial di masa depan antara lain dengan tetap menjadikan pendidikan kemiliteran menjadi tonggak atau pegangan utama guna membentuk prajurit yang profesional dan berkarakter. Pengembangan tersebut membutuhkan kolaborasi ilmu pertahanan, kemiliteran dengan menggandeng kaum akademisi guna menambah wawasan dan pengetahuan kepada prajurit dalam menghadapi era globalisasi seperti saat ini. Institusi formal TNI memiliki tugas penting untuk memperkuat pemahaman dan implementasi ideologi Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara dalam pembentukan karakter tentara milenial di masa depan. Pancasila merupakan filter sekaligus benteng diri prajurit untuk selalu setia kepada negara dan rakyat Indonesia dihadapkan kepada derasnya pengaruh-pengaruh ideologi-ideologi dari luar dikarenakan kemudahan teknologi informasi saat ini.

Negara harus berpihak terhadap pengembagan sumber daya manusia. Jika perlu, negara turut memberi andil dalam memperhatikan kesempatan sekolah di kalangan TNI dengan menyediakan anggaran  pengembangan SDM. Untuk peningkatan kualitas prajurit sesuai bakat dan minat berdasarkan inovasi para prajurit muda, seperti menyekolahkan sampai level S2 di berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri bahkan S3 untuk disiplin ilmu pertahanan.

The Right Man in The Right Place

Untuk menghadapi perubahan generasi, perlu mempersiapkan diri dalam membentuk para calon tentara muda yang saat ini mulai diisi tidak hanya generasi milenial, tapi juga generasi alpha, atau Net-Gen (generasi technology oriented). Perlu melihat ciri khas utama para milenial yang berpikir kritis, progresif, sadar dengan perkembangan teknologi.

“Potensi tersebut jika dikelola dengan tepat akan menjadi energy yang luar biasa untuk memajukan organisasi dan Negara”

Untuk itu, perlu diberikan perhatian khusus kepada Tentara milenial agar potensi yang dimiliki dapat dikembangkan secara optimal serta menjadi generasi yang matang, bijaksana, berkomitmen dan visioner. Karena karakter dan kreatifitas generasi milenial, TNI AL perlu memperhatikan ketersediaan ruang kepada Tentara Milenial sesuai potensi diri, misalnya TNI AL dapat memanfaatkan ini untuk mengembangkan riset teknologi pertahanan dengan melakukan sayembara ilmiah, lomba desain alutsista TNI AL, dan penelitian di lingkungan TNI AL, yang dapat diaplikasikan menjadi join research antara militer dan akademisi. dari hasil tersebut dapat diteruskan menjadi prototype produk pertahanan penunjang operasi laut TNI AL. Mengapa hal ini penting, karena ini diumpamakan seperti – siapa lagi yang mengetahui apa yang dibutuhkan tubuh kita selain diri kita sendiri – ini berlaku untuk TNI AL, hanya praurit TNI AL lah yang tau kebutuhan penunjang operasi militer apa saja untuk menunjang operasi laut.

“Tentara Muda adalah aset masa depan bangsa serta calon pemimpin masa depan. Potensi terbesar Tentara Muda adalah kemurnian idealisme, semangat dan energinya yang besar. Potensi tersebut perlu digali, diberdayakan, dikembangkan dan diarahkan. Perlu diberikan ruang khusus dan perhatian khusus terhadap inovasi, ide, pemikiran dan gagasan dari Tentara Muda. Termasuk ruang untuk melakukan eksperimen dan Try and Error. Namun perlu tetap dijaga agar ruang itu  tetap berada dalam koridor dan nilai-nilai dasar keprajuritan” – imbuh Laksda Octavian

Tugas yang kompleks dihadapi untuk memimpin tentara muda perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya; Menggembleng kejuangan, karakter dan kepemimpinan Tentara Milenial sesuai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia; Membimbing dan mengarahkan Tentara milenial agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; Membimbing dan mengarahkan Tentara milenial agar memiliki wawasan global, regional dan nasional; Memberikan ruang kepada Tentara milenial untuk berdiskusi dan mungkin berdebat yang terarah dan konstruktif; Pendapat, ide dan gagasan Tentara milenial perlu didengarkan dan dieksplorasi; Memberikan tugas kepada Tentara milenial untuk melakukan kajian dan penelitian dalam rangka mencari solusi dari suatu permasalahan, dan; Memberikan ruang kepada Tentara milenial untuk belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada.

Semua dimulai dari ide brilian terpendam tentara muda yang penuh kretifitas dan inovasi. Ruang yang tepat akan menghasilkan orang yang tepat di bidangnya. (yas)


Lutfia Inggriani, M.Si (Han) – Alumni Universitas Pertahanan Cohort IX